Idulfitri 1 Syawal 1447 H/2026 telah berlalu, meski begitu semangat merayakan Lebaran masih belum redup. Ada sebuah budaya silaturahmi yang terkenal sebagai Lebaran Ketupat. Tradisi ini biasanya dilakukan seminggu setelah Idulfitri.
Lantas, tanggal berapa Lebaran Ketupat 2026? Simak penjelasannya berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanggal Berapa Lebaran Ketupat?
Lebaran Ketupat adalah suatu tradisi yang mempererat jaring silaturahmi. Momen ini akan diadakan seminggu setelah memasuki Bulan Syawal. Tepatnya pada 8 Syawal atau jika melihat Kalender Masehi maka Lebaran Ketupat jatuh di hari Sabtu, 28 Maret 2026.
Filosofis Lebaran Ketupat
Lebaran Ketupat tidak hanya tradisi kumpul-kumpul biasa, warisan budaya ini memiliki makna simbolik yang mendalam. Sriyana dan Wiwik Suprapti menafsirkan tradisi melalui artikel berjudul Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Masyarakat Jawa yang terbit di Jurnal Sociopolitico tahun 2024.
Dalam kebahasaan, ketupat yang berasal dari kata kupat mempunyai arti Ngaku Lepat atau mengakui tindakan tidak baik yang telah lalu. Buras yang dilapisi anyaman daun pada ketupat bermakna bahwa kehendak duniawi hendaknya dibungkus oleh kebaikan hati.
Dalam Lebaran Ketupat, masyarakat saling bertemu dan bermaaf-maafan. Hidangan ini bila dimakan oleh tamu atau kerabat dapat mencerminkan keterbukaan hati atas segala kesalahan. Tidak ada lagi hal-hal dipupuk menjadi dendam di kemudian hari. Momen ini juga bertepatan dengan kembalinya masyarakat setelah mudik Lebaran di Pulau Jawa.
Tradisi Lebaran Ketupat di Bali
Ketog Semprong
Ketog Semprong merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh komunitas muslim Desa Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali. Tradisi Ketog Semprong dilaksanakan satu minggu setelah Idul Fitri. Tradisi ini bertujuan untuk merajut silaturahmi, bermaaf-maafan, dan saling bersua.
Tradisi Ketog Semprong sejak dulu telah diwarisi secara turun-temurun di Lingkungan Banjar Candikuning II. Hingga akhirnya, sejak 2014 tradisi ini dirayakan dalam bentuk festival.
Festival ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Masyarakat akan datang membawa makanan masing-masing serta tikar untuk alas megibung. Megibung Sagi atau makan bersama biasanya dilakukan sembari menyaksikan kesenian berakar Islam, seperti Rodat, Kasidah, dan Hadrah.
Ngejot Ketupat
Masyarakat di Bali memiliki tradisi bernama Ngejot. Ngejot ialah tradisi berbagi yang biasanya dilakukan antar warga sebagai bentuk pertemanan atau persaudaraan.
Salah satu tradisi ngejot ini dilakukan antar umat Hindu dan umat Islam. Tradisi ini menggambarkan kerukunan antar umat beragama di Pulau Bali.
Tradisi Ngejot dilaksanakan dengan berbagi makanan. Umat Hindu akan memberikan makanan khas Bali yang berbahan dasar daging ayam. Sedangkan, umat Islam akan membagikan makanan khas lebarannya, seperti ketupat dan opor ayam.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang hari raya Idul Fitri, tepat satu hari sebelumnya. Sedangkan, untuk umat Hindu biasanya dilakukan saat hari Raya Nyepi, Galungan, dan Kuningan.
(nor/nor)