detikBali

Keluarga Beberkan Hasil Investigasi Kematian Dokter Icha

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Keluarga Beberkan Hasil Investigasi Kematian Dokter Icha


Sui Suadnyana, Yufengki Bria - detikBali

Suasana duka di rumah duka dr Icha, di Blok F Perumahan RSS Baumata, Kupang, Jumat (26/6/2026). Foto: Simon Selly/detikBali
Foto: Suasana duka di rumah duka dr Icha, di Blok F Perumahan RSS Baumata, Kupang, Jumat (26/6/2026). Foto: Simon Selly/detikBali
Kupang -

Keluarga membeberkan sejumlah hasil investigasi terkait kasus kematian dr Eliza Princila Utami Pakaenoni alias Dokter Icha. Dokter perempuan itu meninggal bunuh diri akibat diintimidasi oleh tiga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Timor Tengah Utara (TTU) dan satu aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Peternakan TTU.

Paman Dokter Icha, Fabianus Banase, mengatakan hasil investigasi menemukan Rumah Sakit (RS) Leona Kefamenanu menempatkan Icha bersama pasien umum saat menjalani perawatan akibat depresi. Padahal, kondisi kejiwaannya saat itu harus memerlukan penanganan khusus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, RS Leona juga tidak menyediakan ruang isolasi bagi mendiang selama menjalani perawatan. Kemudian, tidak ada pendampingan selama proses pemeriksaan kejiwaan.

Selanjutnya, kejadian tersebut tidak dilaporkan oleh RS Leona terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) TTU maupun Bupati TTU dalam waktu 1x24 jam. Kemudian, fasilitas pengamanan seperti CCTV juga tidak memenuhi standar.

ADVERTISEMENT

"Kami sangat menyayangkan sikap manajemen RS Leona yang sampai saat ini belum memberikan penjelasan resmi kepada publik melalui konferensi pers," ujar Fabi, sapaan Fabianus, saat dihubungi detikBali, Minggu (5/7/2026).

Fabi mengungkapkan temuan keluarga menunjukkan kelemahan penanganan dari rumah sakit, baik dari aspek pelayanan medis maupun pendampingan.

Fabi berharap laporan yang telah dilayangkan ke Polda NTT segera ditindaklanjuti agar keluarga mendapat keadilan dan kepastian hukum. Sebab, kasus tersebut menjadi perhatian publik dan sejumlah pihak.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda NTT, Kombes Henry Novika Chandra, mengatakan Polda NTT akan berkoordinasi dengan ahli pidana, psikologi, dan grafologi untuk pembandingan tulisan maupun tanda tangan apabila diperlukan. Kemudian, tim medis untuk mendalami kondisi kesehatan korban berdasarkan rekam medis sebagai bagian dari pembuktian ilmiah.

"Kami memastikan seluruh fakta akan diuji melalui mekanisme penyidikan yang profesional. Setiap keterangan saksi, barang bukti, alat bukti elektronik, maupun pendapat ahli akan dianalisis secara objektif sehingga hasil penyelidikan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum," kata Henry.

Henry menegaskan Polda NTT tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dan tidak akan menetapkan kesimpulan sebelum seluruh rangkaian penyelidikan dan penyidikan selesai dilakukan.

Guna memastikan penanganan perkara berjalan optimal, evaluasi perkembangan penyidikan akan dilakukan secara berkala oleh tim joint investigation bersama seluruh fungsi yang terlibat.

Selain itu, Polda NTT mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, serta tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya karena dapat mengganggu proses penyelidikan.

"Kami juga mengajak seluruh masyarakat yang mengetahui, melihat, mendengar, atau memiliki informasi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut agar bersedia menyampaikannya kepada kami," jelas Henry.




(iws/iws)











Hide Ads