Tradisi Belangar di Lombok, Melayat hingga Doa Bersama Selama Sepekan

Adila Farhah Nursyifa - detikBali
Senin, 23 Mar 2026 10:46 WIB
Foto: Ilustrasi melayat. (Gemini AI)
Mataram -

Tradisi di Lombok banyak dipengaruhi budaya Bali. Namun, masyarakat setempat tetap memiliki kekhasan tersendiri, termasuk dalam menyikapi kematian. Salah satunya adalah tradisi belangar, yang menjadi bentuk empati sosial saat ada warga meninggal dunia.

Di Lombok yang mayoritas penduduknya beragama Islam, belangar dilakukan dengan mendatangi rumah duka untuk bertemu keluarga yang ditinggalkan. Tradisi ini bukan sekadar melayat, tetapi juga menjadi cara masyarakat berbagi beban emosional dan menunjukkan bahwa keluarga yang berduka tidak sendiri.

Duka kehilangan kerap sulit diungkapkan. Melalui belangar, masyarakat hadir sebagai penguat, sekaligus pengingat bahwa hubungan dengan orang yang telah meninggal tidak berhenti begitu saja, melainkan tetap terjalin melalui relasi sosial yang ditinggalkan.

Belangar dan Latar Belakangnya

Belangar merupakan tradisi masyarakat Sasak yang merujuk pada kegiatan melayat atau mengunjungi keluarga yang sedang berduka. Tradisi ini biasanya dilakukan sehari setelah pemakaman, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan zikir selama sepekan sebagai bentuk empati dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Para keluarga dan tetangga akan berdatangan membawa baskom yang diisi beras. Beras tersebut adalah beras pelangar yang dijadikan persiapan untuk pembuatan kue selama acara berlangsung seminggu. Ada perbedaan antara perempuan dan lelaki, para pihak lelaki akan memberikan amplop untuk acara selamatan.

Saat berita kematian datang, bedug didentumkan sebagai sebuah sinyal ada seseorang yang meninggal. Masyarakat lalu berdatangan baik dari desa atau desa yang lain. Para keluarga juga akan menyiapkan sayur nasi sebagai balasan terima kasih atas beras yang dibawa oleh para pelayat.

Pembuatan keranda bahkan dibantu oleh para masyarakat. Keranda tersebut terbuat dari batang bambu yang dirangkai hingga membentuk keranda yang digunakan untuk mengangkut jenazah ke kuburannya.

Keranda terdiri dari lasah urung batang atau penutup atas dan diikat dengan wenang bola atau benang putih yang membentuk busur. Ada makna dari benang putih yaitu kesucian karena jenazah akan menghadap Sang Pencipta.

Simak Video "Beristirahat di Penginapan Nyaman Kencana Beach Cottage, Sumbawa"


(nor/nor)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork