Daftar Isi
Setiap daerah memiliki rangkaian adat pernikahan yang berbeda-beda. Masyarakat Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki tradisi Sorong Serah Aji Krama.
Tradisi ini merupakan tahapan akhir dalam prosesi pernikahan bagi Suku Sasak. Sorong Serah Aji Krama berfungsi sebagai pengesahan pernikahan secara adat yang mirip dengan ijab kabul dalam Islam.
Simak ulasan mengenai filosofi, makna, hingga tahapan tradisi Sorong Serah Aji Krama dalam prosesi pernikahan adat masyarakat Sasak seperti dirangkum detikBali berikut ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Filosofi Sorong Serah Aji Krama
Dalam bahasa Sasak, sorong serah berarti serah terima. Sedangkan, aji krama merujuk pada aturan atau ketentuan adat. Dengan demikian, tradisi ini dapat dimaknai sebagai prosesi serah terima secara adat yang dilakukan oleh keluarga mempelai laki-laki kepada keluarga mempelai perempuan.
Secara filosofis, Sorong Serah Aji Krama mencerminkan pandangan masyarakat Sasak bahwa pernikahan merupakan ikatan suci yang tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi juga dua keluarga besar.
Tradisi Sorong Serah Aji Krama juga dimaknai sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan terhadap ikatan pernikahan yang telah disepakati. Sekaligus menjadi simbol kuatnya hubungan yang terjalin antara kedua mempelai beserta keluarga besar mereka.
Makna Sosial Tradisi Sorong Serah Aji Krama
Tradisi Sorong Serah Aji Krama diharapkan dapat menjadi landasan terbentuknya rumah tangga yang dijalani dengan prinsip keterbukaan, ketulusan, serta saling menghargai. Selain itu, tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong, kerukunan keluarga, dan penghormatan terhadap leluhur.
Masyarakat Sasak meyakini bahwa ikatan pernikahan yang dimulai dengan niat dan cara yang baik akan membawa kehidupan rumah tangga yang baik pula di kemudian hari. Oleh karena itu, tradisi Sorong Serah Aji Krama terus dilestarikan dan diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini.
Tahapan Tradisi Sorong Serah Aji Krama
Tradisi Sorong Serah Aji Krama dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Berikut uraiannya:
Persiapan
Untuk mengawali rangkaian adat pernikahan, kedua mempelai perlu melakukan berbagai persiapan. Salah satunya adalah pemilihan pembayun, yaitu juru bicara yang akan mewakili masing-masing pihak dalam prosesi adat.
Selain itu, keluarga mempelai laki-laki juga harus menyiapkan mahar atau seserahan berupa kain tenun, perhiasan, maupun barang berharga lainnya yang menjadi simbol adat. Seserahan ini mencerminkan keseriusan serta niat baik untuk meminang calon istri.
Serah Terima
Memasuki inti acara, pembayun yang telah dipilih oleh pihak mempelai laki-laki akan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka kepada pembayun dari pihak mempelai perempuan.
Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus tanggung jawab dalam memohon restu untuk 'meminta' mempelai perempuan dari orang tuanya.
Setelah prosesi serah terima selesai dilaksanakan, pernikahan tersebut resmi mendapatkan pengakuan secara adat dan sah di mata agama.
Doa dan Penutupan
Untuk mengakhiri seluruh rangkaian acara, prosesi Sorong Serah Aji Krama ditutup dengan doa bersama. Dalam kesempatan tersebut, kedua keluarga mempelai memanjatkan doa agar pernikahan anak-anak mereka senantiasa dilimpahi keberkahan, kebahagiaan, serta keharmonisan.
Selain itu, harapan yang sama juga dipanjatkan agar ikatan pernikahan tersebut tidak hanya menyatukan kedua mempelai. Melainkan juga mempererat hubungan kedua keluarga besar dalam jalinan silaturahmi yang rukun dan berkelanjutan.
Nah, demikianlah ulasan mengenai tradisi Sorong Serah Aji Krama. Semoga bermanfaat ya, detikers!
(iws/iws)










































