detikBali

Tradisi Tiyu di Desa Jantuk, Berawal Perang Kerajaan Selaparang Vs Karangasem

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tradisi Tiyu di Desa Jantuk, Berawal Perang Kerajaan Selaparang Vs Karangasem


Sanusi Ardi W - detikBali

Tradisi Tiyu, menunggang kuda saat Idulfitri di Desa Jantuk, Lombok Timur, NTB, Minggu (22/3/2026).
Foto: Tradisi Tiyu, menunggang kuda saat Idulfitri di Desa Jantuk, Lombok Timur, NTB, Minggu (22/3/2026). (Sanusi Ardi/detikBali)
Lombok Timur -

Tradisi Tiyu menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan oleh masyarakat di Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahunnya pada 1 dan 2 Syawal atau saat Idulfitri dan sehari setelahnya.

Istilah 'tiyu' berasal dari bahasa setempat yang berarti pawai menggunakan kuda. Tradisi ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi antar warga desa dan menyambut hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal usul pelaksanaan tradisi tersebut hingga hari ini belum diketahui pasti, mengingat tidak adanya catatan sejarah yang menjelaskan asal mula tradisi Tiyu ini. Namun, berdasarkan penuturan para tokoh desa setempat, tradisi Tiyu diyakini berawal dari peristiwa perang antara Kerajaan Selaparang yang berada Lombok Timur dengan Kerajaan Karangasem di Bali.

Pada masa itu, Kerajaan Karangasem menginvasi wilayah Lombok Timur, yang notabenenya dikuasai oleh Kerajaan Selaparang waktu itu. Kemudian untuk mempertahankan wilayahnya, Kerajaan Selaparang meminta bantuan pasukan dari Kerajaan Gowa, Sumbawa.

ADVERTISEMENT

"Pasukan tersebut datang ke Lombok dengan menunggangi kuda sebagai alat transportasi," tutur Kepala Desa Jantuk, Yudi Hermawan, ditemui detikBali, Minggu (22/3/2026) sore.

Setelah berhasil memukul mundur pasukan Kerajaan Karangasem, sebagian prajurit Kerajaan Gowa tidak kembali ke daerah asalnya. Mereka justru menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jantuk.

Seiring berakhirnya konflik, kuda-kuda yang sebelumnya digunakan dalam peperangan kemudian dimanfaatkan untuk merayakan kemenangan. Dari sinilah tradisi Tiyu diyakini bermula dan terus dilestarikan hingga kini, terutama pada momen Idul Fitri.

"Cerita yang kami terima dari orang tua terdahulu menyebutkan bahwa tradisi ini berkaitan dengan prajurit Kerajaan Gowa yang datang membantu peperangan di Kerajaan Selaparang yang berada di Lombok Timur saat ini, mereka ketika itu datang dengan menunggangi kuda," kata Yudi.

Ia mengatakan, pelaksanaan Tiyu pada Idulfitri juga memiliki makna simbolis sebagai bentuk perayaan kemenangan setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu selama Ramadan. Tradisi tersebut, juga sebagai penyambung silaturahmi dan memupuk rasa persaudaraan antarwarga desa.

Pantauan detikBali, ribuan warga memadati rute pelaksanaan tradisi Tiyu. Lintasan pawai kuda memiliki panjang sekitar 500 meter. Ratusan kuda berbaris lengkap dengan penunggangnya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.

Puncak pawai dijadwalkan berlangsung pada pukul 03.00 Wita dini hari. Waktu tersebut dipilih karena telah menjadi ketentuan turun-temurun dalam pelaksanaan tradisi Tiyu di Desa Jantuk.

Pada Lebaran kali ini, ada 189 ekor kuda mengikuti pawai. Kuda-kuda tersebut didatangkan dari berbagai wilayah di Pulau Lombok, seperti Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.

"Bisa kami katakan, semua kuda yang ada di Pulau Lombok ini kami datangkan ke desa kami ini. Tahun ini ada sekitar 189 ekor kuda," ujar Yudi.

Harga Sewa Rp 3 Juta-Rp 5 Juta

Setiap tahunnya, warga antusias untuk mengikuti tradisi Tiyu ini. Hal tersebut dibuktikan dengan harga sewa kuda yang cukup lumayan mahal, yaitu Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, tergantung dari ukuran, kecepatan, dan kelincahan kuda.

Jauh-jauh hari, warga Desa Jantuk, akan mencari kuda-kuda tersebut ke berbagai pelosok wilayah di pulau Lombok. Hal tersebut dikarenakan di Desa Jantuk sendiri sangat jarang orang memelihara kuda.

"Mau tidak mau harus keluar mencari, karena di sini tidak ada kuda dan kami ingin mendapatkan yang bagus," kata Agus Riadi, salah seorang warga setempat.

Menurut Agus, tradisi Tiyu juga menjadi ajang gengsi antar peserta. Semakin besar dan gagah postur kuda, semakin tinggi pula rasa percaya diri saat tampil.

Tak hanya itu, masyarakat Desa Jantuk sendiri lebih mengutamakan biaya untuk menyewa kuda dibandingkan membeli pakaian Lebaran. Tingginya antusiasme terhadap tradisi ini juga terlihat dari warga perantauan yang memilih pulang kampung demi ikut serta dalam pawai Tiyu.

"Selama mereka memiliki darah Jantuk, pasti pulang, dan mereka meskipun tidak pernah memelihara kuda, pasti berani dan bisa menunggang kuda," kata Agus.



(hsa/hsa)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads