Setelah sukses dengan Tulak Tunggul, Sekaa Teruna Teruni (STT) Sentana Luhur punya ogoh-ogoh baru bernama Ketug Lindu. Ogoh-ogoh itu adalah satu dari 13 ogoh-ogoh beraliran realis khas Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, yang akan tampil saat malam pengerupukan.
"Memang gayanya ogoh-ogoh di sini itu realis. Beda dengan ogoh-ogoh lain yang (umumnya) berkarakter wayang," kata seniman Ketug Lindu, Ketut Kembar Mariana, ditemui detikBali di Pura Penataran Uluwatu Desa Adat Kelodan, Gianyar, Rabu (18/3/2026).
detikBali melihat ogoh-ogoh Ketug Lindu yang sedang digarap di pura itu. Wujudnya, sama seperti Tulak Tunggul, yakni berupa manusia. "Tulak Tunggul sudah diganti. Yang ini namanya Ketug Lindu," kata Kembar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ogoh-ogoh itu ditampilkan sedang duduk bersila sambil menyilangkan kaki untuk menggambarkan kesan santai. Tubuh Ketug Kindu berkulit sawo matang, tinggi 7 meter, dan dengan detail kontur yang langsing tapi berotot.
Yang membedakan ogoh-ogoh Tulak Tunggul adalah perawakan. Senyum di bibir Ketug Lindu dibuat lebar menyeringai. Bagian mata, juga dibuat melotot hingga hampir keluar, membuat raut wajah Ketug Lindu nampak sangat jahat.
Ogoh-ogoh Ketug Lindu sedang digarap di Pura Penataran Uluwatu Desa Adat Kelodan, Gianyar, Rabu (18/3/2026). (Foto: Aryo Mahendro/detikBali) |
Dengan gaya rambut plontos sebagian, hiasan dan gimbal memanjang sampai ke lutut, menambah kesan jahat Ketug Lindu. Kembar mengatakan raut muka Ketug Lindu yang menonjolkan kesan sosok manusia setengah monster.
"Ya, separuh monster, nggak manusia normal banget. Nggak banyak improvisasi juga karena memang lebih banyak main di posenya dan lebih mencari kesan seram," katanya.
Kembar menjelaskan proses pembuatan Ketug Lindu memakan waktu satu bulan. Tidak ada bahan baku khusus dalam proses pembuatan Ketug Lindu. Hanya rangka dalam berbahan besi, rangka luarnya berbahan bambu, kemudian dilapis kertas untuk tekstur kulit, dan 10 cat warna yang umumnya dipakai untuk mewarnai ogoh-ogoh.
Ketug Lindu juga tidak banyak dipakaikan asesoris. Hanya sepasang sekartaji atau hiasan mirip anting yang terpasang di belakang telinga dan beberapa untaian gelang di semua pergelangan tangan dan pergelangan kakinya.
"Rambutnya itu bukan ijuk. Kami pakai bahan dari pohon palem yang diolah. Biasanya bahan itu dipakai untuk rambutnya barong. Gelangnya juga terbuat dari selang air supaya ramah di kantong, karena kalau besi harganya lumayan (mahal)," jelasnya.
Kembar mengatakan, Ketug Lindu hanya akan diarak saat malam pengerupukan. Dia dan anggota STT Sentana Luhur lainnya memutuskan tidak berpartisipasi pada lomba ogoh-ogoh untuk ditampilkan di hari jadi Kabupaten Gianyar.
Makna Ekspresi Jahat Ketug Lindu
Kembar mengatakan, ada makna dibalik ekspresi jahat yang ditampilkan Ketug Lindu. Senyum jahat di wajah ogoh-ogoh itu digambarkan sebagai simbol tingkah manusia yang berujung terjadinya bencana alam di Bali sejak awal 2026.
"Ketug Lindu adalah simbol becana alam. Ketug itu artinya getaran, kalau lindu artinya gempa bumi," kata Kembar.
Tidak hanya bencana alam di dunia nyata. Kembar mengatakan, Ketug Lindu juga melambangkan kondisi spiritual manusia yang mulai sombong, rakus, dan temperamental.
"Melalui ogoh-ogoh ini, mengajak semua masyarakat Bali untuk selalu memelihara keseimbangan hidup sesuai ajaran tri hita karana. Yakni, sebagai peringatan bagi manusia agar menjaga hubungan dengan alam dan Tuhan," katanya.
(hsa/hsa)
