Dari kejauhan, sosok dewi cantik itu tampak tenang berdiri di atas teratai. Namun di sekelilingnya, raksasa dan naga seolah bersiap mengamuk. Ogoh-ogoh bernama 'Segara Gni' ini memang dirancang sebagai pertemuan dua unsur yang berlawanan: air dan api.
Dewi Danu ditampilkan sebagai simbol air dan ketenangan. Ia berdiri di atas delapan kelopak teratai yang melambangkan delapan kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di sisi lain, Raksasa Gni hadir sebagai representasi api, matahari, dan waktu. Naga Anantaboga melingkar, dimaknai sebagai simbol kesejahteraan.
Bagi STT Ria Remaja Jaya Kusuma Banjar Geladag, Desa Adat Pedungan, Denpasar Selatan, konsep itu bukan sekadar visual. I Gede Wira Yowana, salah satu penggarapnya, menuturkan gagasan tersebut berangkat dari nilai persatuan dalam perbedaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konsepnya ditemukan dalam Kekawin Sutasoma dalam ungkapan 'Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa', yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu," ujar Yowana saat ditemui tim detikBali, Rabu, (25/2/2026).
Air dan api dalam 'Segara Gni' juga dimaknai sebagai keseimbangan. Yowana mengibaratkannya seperti matahari dan bulan, gunung dan lautan, hingga emosi dan ketenangan yang berjalan berdampingan. Konsep itu kemudian diterjemahkan ke dalam efek visual yang benar-benar bergerak dan menyala.
Ogoh-ogoh 'Segara Gni' katya STT. Ria Remaja Jaya Kusuma Banjar Geladag, Denpasar Selatan. Foto: Maria Christabel DK/detikBali |
"Nanti kan ombaknya keluar air, dewi juga keluar air (dari vas air yang dipegangnya), naga nya nanti juga maju-mundur, mengeluarkan api, kepala raksasa juga bisa bergerak," tambah Yowana.
Untuk mewujudkan adegan tersebut, prosesnya tidak sederhana. Ogoh-ogoh berbahan organik itu dilapisi cat anti air agar aman saat efek air diaktifkan. Sistem gas pun diatur agar semburan api tetap dalam jangkauan aman.
"Kalau pemantiknya kami pakai yang kayak kompor listrik itu, pemantiknya diujung. Nanti begitu gas keluar kita hidupin pemantiknya, nanti apinya seperti korek. Yang air, kita sistemnya kayak di kolam-kolam taman, kita hubungin selang satu per satu ke mesinnya di bawah," jawab Yowana.
Uji coba dilakukan hampir sebulan penuh. Setiap bagian dicoba terpisah sebelum akhirnya dirangkai menjadi satu kesatuan utuh. Menjelang penilaian Lomba Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026, kendala sempat muncul pada bagian mesin.
"Untuk mesinnya kita kemarin ada kendala, karena tidak expect dengan beratnya. Jadi ada beberapa komponen yang kurang dikencangkan, jadi pagi-pagi buta sebelum penilaian kita bongkar lagi," ucap Yowana.
Persiapan 'Segara Gni' dimulai sejak November 2025 dari tahap pencarian ide. Proses pengerjaan fisik berlangsung sejak Desember. Partisipasi tahun ini juga menjadi momen kebangkitan bagi STT Ria Remaja Jaya Kusuma yang terakhir aktif pada 2012.
Kini, ogoh-ogoh tersebut telah menjalani penilaian pada Kamis, (26/2/2026). Hasilnya akan menentukan 16 besar yang berhak tampil dalam Puncak Kasanga Festival 2026 pada 6-8 Maret mendatang. Di antara ombak buatan dan semburan api itu, 'Segara Gni' mencoba bercerita tentang dua hal yang bertolak belakang, namun tetap bisa berdiri dalam satu panggung yang sama.
(dpw/dpw)











































