detikBali

Wulla Poddu, Tradisi Bulan Pahit yang Jaga Keseimbangan Hidup Masyarakat Sumba

Terpopuler Koleksi Pilihan

Wulla Poddu, Tradisi Bulan Pahit yang Jaga Keseimbangan Hidup Masyarakat Sumba


Trimina Klara - detikBali

Ritual Wulla Poddu atau Bulan Pemali adalah ritual budaya utama suku Loli di Sumba Barat. (Dok. jadesta.kemenpar.go.id)
Foto: Ritual Wulla Poddu atau Bulan Pemali adalah ritual budaya utama suku Loli di Sumba Barat. (Dok. jadesta.kemenpar.go.id)
Daftar Isi
Denpasar -

Salah satu tradisi yang masih bertahan di tengah zaman modernisasi ini adalah Wulla Poddu. Ritual adat dari masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini merupakan ritual sakral yang sarat akan makna spiritual, sosial, dan budaya.

Simak yuk ulasan selengkapnya mengenai Wulla Poddu yang dirangkum dari berbagai sumber.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Wulla Poddu?

Wulla Poddu adalah ritual suci yang penting bagi masyarakat Sumba Barat terkhusus penganut kepercayaan Marapu. Jika diartikan ke bahasa Sumba, Wulla Poddu ini berarti "bulan pahit" yang biasanya dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November. Dengan tujuan membersihkan diri, berdamai dengan sesama, menyelaraskan hubungan dengan alam, leluhur dan hewan, serta memohon keberkatan, rasa syukur atas kehidupan dan panen.

Poddu yang memiliki makna "pahit" di sini bukan berarti buruk, akan tetapi memiliki arti bulan yang dianggap suci dan istimewa, karena masyarakat yang menahan diri dan melepaskan kegiatan duniawi sementara waktu. Ritual adat ini bukan hanya sekedar upacara yang rutin dilakukan tiap tahunnya. Tapi menjadi momen penting melalui doa-doa pantangan dan masyarakat yang memiliki harapan baru untuk keseimbangan di tengah tantangan hidup.

ADVERTISEMENT

Desa Adat dan Waktu Pelaksanaan Wulla Poddu

Seperti yang sudah dikatakan diatas, tradisi Wulla Poddu merupakan ritual penganut kepercayaan Marapu. Maka dengan begitu pelaksanaan Wulla Poddu ini mengikuti kalender adat Marapu, dihitung dari fase bulan lalu ditafsirkan oleh para Rato atau tetua adat. Yang pasti ritual ini dilaksanakan selama satu bulan penuh berkisar di bulan Oktober-Desember.

Desa adat yang masih melestarikan ritual suci ini seperti Desa Tarung, Bondo Maroto, Kadoku, Umbu Koba dan hampir semua wilayah di Sumba Barat merayakan tradisi ini.

Rangkaian Tradisi Wulla Poddu

· Tauna Pepa, mempersembahkan makanan untuk arwah leluhur Marapu berupa nasi yang dicampur ketan (pulut) dan bumbu wijen.
· Tauna Bengga, upacara pemberian makan arwah anjing Marapu berupa sesajen nasi yang dicampur daging babi.
· Wulla Poddu, yaitu melihat bulan yang mana nanti Rato akan mengumumkan kapan pelaksanaan Wulla Poddu.
· Kalola, proses keempat ini ialah berburu selama empat malam yang akan dilakukan oleh semua laki-laki.
Semua rangkaian kegiatan tersebut akan dipimpin langsung oleh tokoh adat yang berperan sentral dalam upacara ini. Mulai dari penentuan waktu pelaksanaan, memimpin ritual doa, hingga memastikan seluruh masyarakat untuk mematuhi aturan adat yang berlaku.

Potensi Ritual Wulla Poddu sebagai Wisata Budaya

Ritual adat dengan sifat sakral dan penuh sarat ini, tentunya memiliki potensi sebagai wisata budaya dengan berbasiskan edukasi. Namun banyak hal yang perlu diperhatikan, agar ritual ini tetap memiliki sisi suci nya. Namun sebenarnya adat sudah membuka kehadiran tamu luar untuk menyaksikan tradisi adat mereka, dengan beberapa peraturan khusus seperti:

1. Tidak memotret atau merekam tanpa izin, terlebih lagi dilokasi rumah adat atau tempat persembahan.
2. Gunakan pakaian yang sopan dan tertutup.
3. Jaga sikap selama upacara berlangsung
4. Patuh dengan aturan dari tetua adat dan pendamping lokal.
5. Hindari membawa makanan dan minuman sembarangan ke area ritual.

Dari tradisi Wulla Poddu ini bisa menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih tetap hidup dan bertahan di tengah zaman modernisasi saat sekarang ini. Masyarakat Sumba yang berhasil menjaga tradisi ini untuk tetap ada dan selalu diwariskan secara turun-temurun secara tidak langsung menunjukkan bahwa tradisi leluhur bukanlah sebuah penghalang, melainkan berperan sebagai penyelaras antara alam dan sesamanya.



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads