Mengenal Tradisi Ngaben Tanpa Membakar Mayat di Desa Adat Pecatu

Mengenal Tradisi Ngaben Tanpa Membakar Mayat di Desa Adat Pecatu

Triwidiyanti - detikBali
Minggu, 11 Sep 2022 09:48 WIB
Upacara ngaben tanpa prosesi pembakaran jenazah di Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, Badung.
Upacara ngaben tanpa prosesi pembakaran jenazah di Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, Badung. (Foto: Istimewa)
Badung -

Selama ini, tradisi ngaben di Bali identik dengan upacara pembakaran mayat. Namun, beberapa desa di Bali ternyata tidak melakukan pembakaran jenazah saat ngaben. Upacara ngaben tanpa prosesi pembakaran jenazah itu dapat ditemui di desa-desa di Kuta Selatan, Badung. Termasuk salah satunya Desa Adat Pecatu.

Bendesa Desa Adat Pecatu Made Sumerta mengatakan Desa Adat Pecatu merupakan desa tua yang dikenal juga dengan sebutan Bukit Badung. Ia menceritakan tradisi ngaben tanpa membakar jenazah sudah dilakukan sejak zaman Mpu Kuturan, utusan Raja Airlangga dari Jawa Timur.

Menurutnya, ngaben tanpa membakar jenazah dilakukan karena wilayah Desa Adat Pecatu dekat dengan Pura Sad Kayangan, yakni Pura Luhur Uluwatu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesucian agar tidak menjadi leteh atau kotor. Sebab, jika pembakaran jenazah dilakukan, dikhawatirkan asap dan abunya bertebaran ke areal pura.


"Karena ada Pura Luhur Uluwatu yang di-empon oleh puri dan kita ini pengemong. Tradisi ngaben itu supaya tidak leteh (kotor), mungkin dari asapnya," kata Sumerta saat ditemui di Desa Pecatu, Minggu (11/9/2022).

Sumerta menjelaskan, waktu pelaksanaan ngaben terhadap orang yang meninggal tergantung pihak keluarga. Ada yang begitu meninggal langsung dipersiapkan pengabenan; ada pula yang meninggal, lalu dikubur beberapa lama, kemudian di-aben.

"Pada saat diaben ada bangun adegan (dibangunkan) secara simbolik. Laki-laki atau wanita diwujudkan dengan adegan seperti arca yang dihias, kemudian ada pembersihan seperti layaknya mayat biasa," tuturnya.

Arca yang telah dihias itulah yang nantinya akan dibakar saat ngaben. Jadi, prosesi ngaben di Desa Adat Pecatu bukan dengan membakar mayat, melainkan membakar arca yang disimbolkan sebagai jenazah. Sementara jenazah aslinya tetap dikubur di setra atau kuburan desa setempat.

Untuk membantu meringankan beban krama, Desa Adat Pecatu rutin menggelar ngaben massal setiap 3 tahun sekali. Menurut Sumerta, jika dibandingkan dengan upacara ngaben pribadi, dana yang dihabiskan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Berbeda dengan ngaben massal, biaya yang dikeluarkan bisa lebih hemat.

"Ngaben massal ini sangat membantu warga kami yang tidak memiliki dana untuk upacara ngaben pribadi, karena itu habis banyak. Kalau massal, warga dibebankan hanya Rp 8 juta saja," ujarnya.



Simak Video "Penjualan Betutu Khas Gilimanuk Laris Manis saat Libur Nataru"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/iws)