Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Badung mengungkapkan hasil investigasi kematian mendadak puluhan ekor babi milik peternak di Banjar Kayu Tulang, Desa Canggu, Kuta Utara, Badung. Terungkap, ada 30 ekor babi yang mati, bukan 60 ekor seperti disebutkan sebelumnya.
Kepala Disperpa (Kadisperpa) Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, membeberkan berdasarkan data investigasi, kasus bermula saat babi penggemukan sebanyak 60 ekor di kandang tersebut mendadak sakit secara beruntun sejak awal April lalu. Padahal, puluhan bibit babi yang dibeli dari wilayah Desa Buduk, Tumbak Bayuh, dan Abiansemal itu awalnya masuk dalam kondisi yang sangat sehat.
"Pemeliharaan di sana menggunakan sistem kandang koloni atau semua babi dicampur dalam satu kandang, dengan pakan berupa swill feeding atau makanan limbah hotel dan restoran. Pada awal April, ada dua ekor babi sakit dengan gejala klinis tidak mau makan, lesu, kemerahan pada kulit, dan babi tidak bisa berdiri," ungkap Raka, Jumat (23/5/2026).
Meski sempat mendapatkan penanganan medis dari dokter hewan mandiri, tingkat serangan virus tetap tidak terbendung hingga menyebabkan kematian massal. Di sisi lain, Disperpa Badung memastikan babi yang mati beruntun berjumlah 30 ekor, dan sebagian dijual.
Hal ini berbeda dengan keterangan pemilik yang menyebut seluruh babi miliknya mati. Ketut Widanta mengaku ingin menghindari potensi kerugian yang membengkak, dengan segera mengosongkan sisa isi kandang.
"Ternyata setelah ditangani dokter hewan pribadi, serangan penyakit justru diikuti kematian babi lainnya sehingga peternak kemudian menjual babi-babi yang masih sehat sebanyak 30 ekor. Saat ini kandang babi sudah kosong, di mana babi yang mati dikubur sebanyak 30 ekor dan yang sehat dijual ke pemotong babi di Desa Darmasaba," ujar Raka Sukadana.
Kandang Disemprot Disinfektan
Petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Mengwi mengisolasi dan menyemprotkan cairan disinfektan di area kandang babi tersebut. Sterilisasi dilakukan setelah petugas mendeteksi gejala klinis yang menyerang puluhan babi tersebut mengarah kuat pada virus maut african swine fever (ASF).
"Laporan respons kematian babi di kandang milik Pak I Ketut Widanta di Canggu, Kuta Utara, sudah kami tindaklanjuti. Hasil pemeriksaan petugas Puskeswan Mengwi menunjukkan penyakit yang menyerang puluhan babi tersebut memang mengarah ke penyakit ASF," kata Raka.
Penyakit demam babi afrika ini menjadi ancaman serius bagi peternak karena sifatnya yang sangat merusak dan belum bisa disembuhkan secara medis. Ia menegaskan satu-satunya jalan untuk memutus rantai penularan di lokasi kejadian adalah dengan memperketat pengawasan kebersihan di area penampungan hewan.
"Penyakit ini tidak bisa diobati dengan angka kesakitan mencapai 100 persen dan kematian 100 persen, namun sebenarnya masih bisa dicegah. Makanya sangat penting dilakukan pencegahan dengan biosecurity yang ketat, sanitasi kandang yang baik sehingga nggak ada penyebaran virus ke kandang lain," jelasnya.
Raka Sukadana memastikan petugas teknis langsung mendistribusikan alat untuk sterilisasi ke lokasi peternakan yang terdampak. Langkah ini wajib dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan seluruh sisa virus mati sebelum peternak kembali memulai aktivitas pembibitan.
"Petugas kami di lapangan sudah memberikan cairan desinfektan untuk mensucihamakan area sekitar lokasi. Kandang di sana harus benar-benar bersih dari virus sebelum nantinya dipakai lagi memelihara bibit baru," ujar tandas Sukadana.
Simak Video "Video: Peternak di Mojokerto Kembangkan Unta untuk Kurban Idul Adha"
(hsa/hsa)