Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Badung merespons kasus kematian mendadak ternak babi milik warga di Banjar Kayu Tulang, Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara. Meski belum menerima laporan resmi, dinas terkait bakal menerjunkan tim untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut di lapangan.
Kepala Disperpa Badung Anak Agung Ngurah Raka Sukadana mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi terkait dugaan kasus African Swine Fever (ASF) di wilayah tersebut. Namun, penelusuran akan tetap dilakukan.
"Sampai saat ini laporan terkait kasus penyakit African Swine Fever atau ASF di Banjar Kayu Tulang belum kami terima secara resmi. Namun demikian, kami akan menelusuri informasi terkait kejadian tersebut dan apabila terbukti benar, Dinas akan segera melakukan langkah-langkah penanganan sesuai ketentuan yang berlaku," ujar Kepala Disperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika temuan di lapangan mengarah pada penularan penyakit menular, pemerintah daerah menegaskan akan segera mengambil langkah penanganan. Salah satunya melalui pengambilan sampel jaringan ternak untuk memastikan penyebab kematian lewat pemeriksaan laboratorium.
"Apabila benar ditemukan kasus kematian babi di wilayah Desa Canggu, Dinas akan segera berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Denpasar. Hal ini penting untuk melakukan pengambilan sampel sebagai langkah peneguhan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium," kata Raka Sukadana.
Di sisi lain, Disperpa mengakui laporan kematian mendadak ternak babi juga sempat diterima dari beberapa wilayah lain di Badung. Petugas telah turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal.
"Terkait laporan kematian mendadak pada ternak babi di beberapa wilayah memang ada. Kami telah menindaklanjuti dengan memberikan sosialisasi kepada peternak serta melakukan desinfeksi kandang guna mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut," ucapnya.
Hingga kini, belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk menangkal virus demam babi afrika atau ASF. Karena itu, peternak diminta memperketat pengawasan lalu lintas orang maupun barang yang keluar-masuk area peternakan.
"Dalam upaya penanggulangan penyakit hewan, setiap tahun Dinas menganggarkan pengadaan obat-obatan dan desinfektan. Hingga saat ini, vaksin untuk penyakit ASF masih belum tersedia, sehingga peternak diharapkan menerapkan biosekuriti secara ketat dengan membatasi keluar-masuk orang, barang, dan hewan lain ke area peternakan," jelasnya.
Selain memperketat pengawasan kandang, pemilik ternak juga diimbau menghentikan kebiasaan memberikan pakan dari sisa makanan industri pariwisata. Pola pemberian pakan dari limbah makanan dinilai berisiko tinggi menularkan virus.
"Praktik pemberian swill feeding atau pakan dari limbah hotel atau restoran untuk ternak babi tidak disarankan sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Kementerian Pertanian Nomor 8432/SE/PK.320/F/08/2025. Penularan ASF tidak hanya dapat terjadi melalui limbah makanan tersebut, tetapi juga melalui orang, barang, kendaraan, pakan, dan media lain yang telah tercemar," pungkas Raka Sukadana.
Sebelumnya, sebanyak 60 ekor babi siap panen milik warga di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali, dilaporkan mati mendadak sejak April 2026 akibat diduga terserang virus African Swine Fever (ASF). Kematian diduga terjadi secara bertahap dengan gejala klinis seragam, di antaranya perubahan warna kulit ternak menjadi kemerahan dan menurunnya nafsu makan.