detikBali

Pilu Peternak di Canggu, 60 Babi Mati Mendadak Diduga Terserang Demam Afrika

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pilu Peternak di Canggu, 60 Babi Mati Mendadak Diduga Terserang Demam Afrika


Tim detikBali - detikBali

Widanta saat menunjukkan kondisi kandang babi miliknya yang sudah kosong, Kamis (21/5/2026).
Ketut Widanta saat menunjukkan kondisi kandang babi miliknya yang sudah kosong, Kamis (21/5/2026). (Foto: Agus Eka/detikBali)
Badung -

Ketut Widanta hanya terdiam saat melihat kandang babi miliknya kini kosong melompong. Musababnya, puluhan babi siap panen di kandang tersebut mati mendadak sejak April lalu.

Widanta mengaku merugi puluhan juta rupiah akibat kondisi tersebut. Peternak babi di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali, itu menduga hewan ternaknya mati akibat terserang virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi afrika.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua babi peliharaan saya mati. Totalnya 60 ekor, nggak ada yang tersisa di kandang," tutur Widanta, Kamis (21/5/2026).

Wabah yang menyerang ternak milik Widanta muncul secara bertahap dengan gejala klinis seragam. Kejadian serupa sudah lima kali dialami peternakannya sejak tahun 2018.

ADVERTISEMENT

"Gejalanya selalu sama, muncul bintik merah, nggak mau makan," kata Widanta.

Diduga Terserang ASF

Widanta menjelaskan gejala paling kentara dari penyakit yang dialami puluhan ternaknya ialah perubahan warna kulit babi menjadi kemerahan. Ia menyebut penularannya sangat cepat hingga menjangkiti seluruh populasi kandang hanya dalam hitungan hari.

"Penyakit yang saya duga ASF ini biasanya sudah tertular sekitar satu pekan. Penularannya cepat beberapa hari, kalau satu ekor kena, semua pasti kena," imbuh pria yang merintis usaha ternak babi sejak 2000 itu.

Puluhan babi yang mati kemudian dikubur oleh pemiliknya untuk mencegah penularan lebih luas. Widanta mengaku hanya bisa pasrah lantaran hingga kini belum ada obat ataupun vaksin yang bisa menyembuhkan serangan virus mematikan pada ternak babi tersebut.

"Padahal babi saya ini beratnya sudah sekitar 150 kilogram, per ekor. Posisinya sudah siap panen, malah mati," ketus Widanta.

Widanta menduga virus yang menjangkiti bab-babinya masuk melalui mobilitas hewan maupun aktivitas manusia yang membawa agen penyakit dari luar. Ia menduga penggunaan wadah transportasi atau kandang angkut yang tidak higienis juga menjadi sarana penyebaran virus antarpeternakan.

Disperpa Badung Telusuri

Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Badung merespons kasus kematian mendadak ternak babi milik warga di Banjar Kayu Tulang, Desa Canggu. Meski belum menerima laporan resmi, dinas terkait bakal mengerahkan tim untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut di lapangan.

"Sampai saat ini laporan terkait kasus penyakit African Swine Fever atau ASF di Banjar Kayu Tulang belum kami terima secara resmi. Namun demikian, kami akan menelusuri informasi terkait kejadian tersebut," ujar Kepala Disperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, Kamis (21/5/2026).

Sukadana menjelaskan pihaknya segera mengambil langkah penanganan jika temuan di lapangan mengarah pada penularan penyakit menular. Salah satunya melalui pengambilan sampel jaringan ternak untuk memastikan penyebab kematian lewat pemeriksaan laboratorium.

"Apabila benar ditemukan kasus kematian babi di wilayah Desa Canggu, Dinas akan segera berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Denpasar. Hal ini penting untuk melakukan pengambilan sampel sebagai langkah peneguhan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium," kata Raka Sukadana.

Babi Mati Mendadak di Wilayah Lain

Di sisi lain, Disperpa Badung mengakui sempat menerima laporan ternak babi mati mendadak dari beberapa wilayah lain di Badung. Menurutnya, petugas Disperpa Badung telah turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal.

"Terkait laporan kematian mendadak pada ternak babi di beberapa wilayah memang ada. Kami telah menindaklanjuti dengan memberikan sosialisasi kepada peternak serta melakukan desinfeksi kandang guna mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut," imbuhnya.

Hingga kini, Sukadana berujar, belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk menangkal virus demam babi afrika atau ASF. Ia meminta peternak untuk memperketat pengawasan lalu lintas orang maupun barang yang keluar-masuk area peternakan.

"Dalam upaya penanggulangan penyakit hewan, setiap tahun Dinas menganggarkan pengadaan obat-obatan dan desinfektan. Hingga saat ini, vaksin untuk penyakit ASF masih belum tersedia, sehingga peternak diharapkan menerapkan biosekuriti secara ketat," jelasnya.

Selain memperketat pengawasan kandang, ia juga mengimbau pemilik ternak menghentikan kebiasaan memberikan pakan dari sisa makanan industri pariwisata. Sebab, pola pemberian pakan dari limbah makanan dinilai berisiko tinggi menularkan virus.

"Praktik pemberian swill feeding atau pakan dari limbah hotel atau restoran untuk ternak babi tidak disarankan sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Kementerian Pertanian Nomor 8432/SE/PK.320/F/08/2025. Penularan ASF tidak hanya dapat terjadi melalui limbah makanan tersebut, tetapi juga melalui orang, barang, kendaraan, pakan, dan media lain yang telah tercemar," pungkas Raka Sukadana.



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads