Kelompok Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri) Satya Sujati di Desa Gelgel, Klungkung, Bali, tengah kesulitan menjual sapi ternaknya menjelang Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi. Tak seperti Idul Adha tahun-tahun sebelumnya, permintaan sapi kali ini dirasa cukup sepi sehingga menyebabkan penurunan harga jual.
Ketua Kelompok Simantri Satya Sujati, I Ketut Sudarsa (58), mengungkapkan permintaan bibit sapi dari peternak tahun ini hampir tidak ada. Kalau pun ada, harga beli yang diminta sangat rendah.
"Kalau Idul Adha sebelumnya, banyak petani yang ke sini beli bibit dengan harga tinggi. Hal itu menunjukkan kalau sapi yang sudah dibesarkan laku dengan harga bagus. Sekarang susah jualnya, akibatnya harga jual juga merosot," keluh Sudarsa saat ditemui detikBali di kandang kelompok pembibitan sapinya, Kamis (7/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya. Ia sanksi jika banyak yang mengatakan harga jual sapi naik jelang Idul Adha. Sebab, buktinya, para peternak enggan membeli bibit atau anakan sapi.
"Kalau laku bagus, seharusnya di sini kami tidak kesulitan menjualnya. Ini saya di sini mengurus banyak petani, mereka semua mengeluh, bahkan sudah mulai malas mengurus sapinya," beber Sudarsa.
"Dulu anakan sapi usia enam bulan harganya sudah Rp 8 sampai Rp 9 juta, sekarang Rp 4 sampai Rp 5 juta. Saya juga tidak tahu, tetapi ini ada penyebab dari banyaknya sapi yang masuk ke Bali. Pemerintah tidak mengutamakan sapi lokal. Tidak tahu, ini permainan orang-orang di atas," jelas Sudarsa.
Kesulitan menjual ternak ini, menurut Sudarsa, kian terasa jelang Idul Adha. Padahal dahulu, hampir setiap tahun jelang lebaran pemotongan hewan kurban bagi umat Islam, semua petani meraup untung.
"Dulu kami berani pinjam bank beli bibit, sekarang mana berani. Kalau dihitung untuk ngurusi pakan, jadinya terus merugi," sambung Sudarsa.
Berbeda dengan Sudarsa, Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kampung Gelgel, Mashuri, menuturkan sapi yang diternak dari bantuan salah satu program pemerintah pusat mengalami kenaikan harga jelang Idul Adha. Menurutnya, kenaikan tersebut sudah terjadi seusai Idul Fitri.
"Kenaikan harga sapi itu kami pantau sudah terjadi pasca-Idul Fitri. Sebelum puasa, dengan pascapuasa kenaikannya cukup signifikan sampai sekarang. Dari Rp 10 sampai Rp 12,5 juta, sekarang untuk anakannya sudah Rp 14 juta," terang Mashuri.
Kendati demikian, Mashuri tidak mengetahui dengan pasti sejauh mana kisaran kenaikan harga di pasaran. Sebab, BUMDes Kampung Gelgel baru tahun ini menjalankan usaha ternak sapi.
(iws/iws)










































