detikBali

Kuota Pengiriman Sapi Bali Habis, Peternak Jembrana Cemas Harga Anjlok

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kuota Pengiriman Sapi Bali Habis, Peternak Jembrana Cemas Harga Anjlok


I Putu Adi Budiastrawan - detikBali

Salah satu peternakan sapi di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Rabu (6/5/2026).
Salah satu peternakan sapi di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Rabu (6/5/2026). (Foto: I Putu Adi Budiastrawan/detikBali)
Jembrana -

Aktivitas pengiriman sapi potong dari Bali ke Jawa, Sumatera, dan Kalimantan menjelang Idul Adha 2026 mulai menurun. Kondisi ini dipicu habisnya kuota pengiriman sapi tahun 2026, yang membuat peternak dan pengusaha khawatir terhadap keberlanjutan distribusi hingga akhir tahun.

Salah satu pengusaha sapi asal Jembrana, I Gede Gunawantika (46), mengungkapkan permintaan sapi untuk Idul Adha tahun ini sebenarnya cukup tinggi, terutama dari pasar Kalimantan dan Jakarta. Sapi dengan bobot 275 hingga 350 kilogram menjadi yang paling diminati.

"Terkait Idul Adha 2026, permintaan cukup tinggi. Harga bahkan naik Rp 7.000 per kilogram, dari harga Rp 44 ribu sekarang sudah menyentuh Rp 50 ribu sampai Rp 51 ribu per kilogram," ungkap Gunawantika saat ditemui detikBali, Rabu (6/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut bisnisnya relatif stabil dengan total pengiriman mencapai 2.500 ekor, sama seperti tahun lalu. Secara keseluruhan, sekitar 3.500 ekor sapi untuk kebutuhan Idul Adha telah dikirim ke luar Bali. Namun, persoalan kuota kini menjadi kendala utama.

ADVERTISEMENT

"Kuota 2026 sebanyak 50 ribu ekor sudah habis, bahkan tambahan 3.500 ekor juga sudah habis. Kami berharap ada tambahan kuota harian untuk kebutuhan Juni sampai Desember," keluhnya.

Gunawantika menilai, jika kuota tidak ditambah, stok sapi di tingkat petani yang masih melimpah tidak akan terserap keluar daerah. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga sapi di tingkat lokal.

"Sapi di lapangan masih banyak, kepemilikan petani juga tinggi. Kalau tidak ada kuota tambahan, otomatis harga pasti anjlok. Apalagi sistemnya sekarang rebutan kuota dengan pengusaha lain di seluruh Bali, tidak dibagi per kabupaten," tambah Gunawantika.

Terkait kesehatan hewan, Gunawantika memastikan kondisi tahun ini jauh lebih baik. Kasus Lumpy Skin Disease (LSD) disebut menurun drastis hingga hampir tidak ditemukan. Meski begitu, pengusaha kini harus menanggung biaya Pajak Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 100 ribu per ekor sejak munculnya kasus PMK dan LSD.

Pengiriman Mulai Melandai

Secara terpisah, Kepala Karantina Hewan Gilimanuk membenarkan adanya penurunan volume pengiriman dibandingkan pekan lalu. Saat ini, rata-rata pemeriksaan harian mencapai 20 truk dengan total sekitar 400 ekor sapi.

"Puncaknya minggu lalu, bisa mencapai lebih dari 50 truk per hari dengan total hampir 1.000 ekor. Sepertinya tahun ini pengiriman dilakukan lebih awal, sehingga tiga minggu menjelang Idul Adha sudah mulai landai," jelasnya.

Berdasarkan data Karantina Hewan Gilimanuk, sejak Januari hingga awal Mei 2026, sebanyak 48.000 ekor sapi telah diseberangkan keluar Bali. Pihak karantina menegaskan urusan kuota bukan menjadi kewenangan mereka, melainkan ranah Dinas Peternakan Provinsi.

"Kami hanya mempersyaratkan adanya sertifikat veteriner dari provinsi. Itu syarat utama sebelum proses pemeriksaan karantina. Sejauh ini, kami pastikan sapi yang melintas sehat, tidak ada indikasi PMK maupun LSD," tegasnya.

Hingga kini, Bali masih memperketat aturan dengan melarang masuknya ternak (sapi, babi, kambing) dari luar daerah guna menjaga status surplus ternak dan keamanan hayati di Pulau Dewata.




(dpw/dpw)










Hide Ads