Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Bali pada April 2026 secara bulanan (month-to-month) sebesar 0,01 persen. Inflasi ini terutama dipicu kenaikan harga avtur yang berdampak pada tarif angkutan udara.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, mengatakan komoditas angkutan udara menjadi penyumbang terbesar inflasi. Kenaikan tarif mencapai 32,74 persen dengan andil 0,08 persen, seiring naiknya harga avtur.
"Secara umum, inflasi April 2026 didorong oleh kenaikan harga jasa transportasi angkutan udara akibat kenaikan harga avtur dengan inflasi sebesar 32,74 persen," ujar Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, Senin (4/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain angkutan udara, sejumlah komoditas lain juga turut mendorong inflasi. Beras mengalami inflasi sebesar 1,16 persen dengan andil 0,06 persen. Sementara minyak goreng meningkat 3,19 persen dengan andil 0,05 persen.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi. Cabai rawit mengalami deflasi sebesar 27,63 persen dengan andil 0,22 persen. Daging ayam ras juga mengalami deflasi sebesar 4,77 persen dengan andil 0,14 persen. Selain itu, sawi hijau turun 19,86 persen dengan andil 0,03 persen.
Secara wilayah, inflasi tertinggi pada April 2026 terjadi di Kota Denpasar. Sementara itu, deflasi terdalam tercatat di Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Badung.
"Pada April 2026, tingkat inflasi tertinggi tercatat di Kota Denpasar sebesar 0,19 persen sedangkan deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Badung sebesar 0,17 persen," katanya.