Pesisir Kusamba di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, adalah ladang kristal garam yang menghidupi ratusan kepala keluarga (KK). Namun, itu dulu.
Garam kusamba pernah masyhur pada masanya. Diproduksi menggunakan teknik kuno dengan media palung kayu pohon kelapa, kristal-kristal garam ini diakui dunia karena teksturnya lembut dan rasanya gurih.
Namun, pengakuan itu tak cukup kuat melawan arus perubahan zaman. Kini, garam kusamba memasuki senja kala. Jumlah petani garam di pesisir Kusamba terus menyusut hingga tersisa hanya 16 KK.
Satu dari petani garam kusamba yang masih bertahan adalah pasangan lanjut usia (lansia) bernama Ni Nyoman Sekar (55) dan suaminya Nyoman Koplog (60). Sekar mengakui penghasilan menjadi petani garam yang tidak menentu membuat anak-anaknya enggan meneruskan profesi tersebut.
"Anak saya dua, mereka tidak ada yang mau meneruskan. Mereka tahu cara membuat garam ini, tapi tidak mau melanjutkan," tutur Sekar sembari meratakan gunungan garam yang sedang dijemur di Pantai Kusamba, Minggu (3/5/2026).
Pagi itu cerah. Sekar bersama Koplog masih bersemangat memikul keranjang berisi kristal garam basah meski di bawah terik matahari. Tubuhnya masih kokoh menyisir hamparan pasir hitam yang kian sempit dilahap abrasi.
Selain ancaman abrasi, proses pembuatan garam tersebut terkendala jika hujan turun. Demikian pula ketika air pasang datang hingga merendam ladang garam Sekar. Proses produksi yang tidak berkesinambungan ditambah minimnya pembeli membuat penghasilan Sekar dan suami makin tak menentu.
"Pembeli juga mulai jarang. Kalau begini, terpaksa ngutang dulu. Nanti kalau sudah ada yang laku, baru dikembalikan," imbuhnya.
Sekar mengakui garam kusamba tak lama lagi hanya akan menjadi kenangan. Kata dia, saat ini tidak ada lagi petani garam muda.
Simak Video "Video: Hina Perayaan Nyepi di Bali, Bule Swiss Diciduk Polisi"
(iws/iws)