detikBali

Alasan Harga Emas Turun Sejak Perang AS-Iran

Terpopuler Koleksi Pilihan

Alasan Harga Emas Turun Sejak Perang AS-Iran


Ilyas Fadilah - detikBali

Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Antam Setiabudi One, Jakarta, Rabu (15/10/2025). Berdasarkan situs Logam Mulia Antam pada Rabu (15/10), harga emas Antam naik sebesar Rp23.000 per gram dari Rp2.360.000 per gram menjadi Rp2.383.000 per gram dan kenaikan harga tersebut menjadi rekor harga tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). ANTARA FOTO/Reno Esnir
Foto: Karyawan menunjukkan sampel emas batangan di Butik Emas Antam Setiabudi One, Jakarta, Rabu (15/10/2025). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)
Jakarta -

Harga emas dunia turun di tengah perang Amerika Serikat (AS) dan Iran. Jika ditarik sejak dimulainya perang AS dan Iran, harga emas dunia turun lebih dari 14%. Harga emas dunia bahkan turun 11% sepekan terakhir, terdalam sejak 1983.

Kalah Bersinar Dibanding Mata Uang Asing

Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira, menilai aset emas kini kalah bersinar dibanding dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss sebagai safe haven. Terlebih, harga emas yang sudah tinggi dalam dua tahun terakhir mendorong banyak pelaku pasar melakukan aksi ambil untung.

"Emas sudah terlalu mahal, jadi banyak trader yang profit taking karena sudah menumpuk emas dua tahun terakhir," kata Bhima dilansir dari detikNews, Selasa (24/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, kebutuhan likuiditas membuat investor lebih memilih memegang uang tunai. Menurut Bhima, mata uang Paman Sam berhasil memenangkan pertarungan sebagai aset aman di tengah krisis. Bhima memperkirakan harga emas turun ke level Rp 1,9-2 juta per gram.

ADVERTISEMENT

"Kebutuhan likuiditas juga membuat emas tidak menarik. Sekarang cash is the king, artinya dolar AS adalah raja. Setelah ramai soal dedolarisasi, kini dolar AS memenangkan pertarungan sebagai aset yang paling aman di tengah krisis. Harga emas ke depan masih cenderung terkoreksi, diproyeksi ke level Rp 1,9-2 juta per gram," ujar Bhima.

Dipengaruhi Faktor Finansial

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai penurunan harga emas di tengah konflik yang terjadi memang tidak biasa. Hal ini menunjukkan pasar lebih dipengaruhi faktor finansial dibanding geopolitik.

Yusuf mengatakan ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik. Emas yang tidak memberikan imbal hasil akhirnya ditinggalkan sementara oleh investor sehingga harganya ikut tertekan.

"Dalam beberapa waktu terakhir, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga tinggi lebih lama membuat instrumen seperti obligasi menjadi lebih menarik. Emas yang tidak memberikan imbal hasil akhirnya ditinggalkan sementara oleh investor sehingga harganya tertekan," jelas Yusuf.

Senada dengan Bhima, Yusuf menyebut penguatan nilai tukar dolar AS ikut menekan harga emas. Emas yang dijual dalam dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi investor global sehingga permintaan melemah.

"Ini membuat permintaan tidak sekuat biasanya meskipun situasi global masih penuh risiko. Dalam konteks ini, pasar tampaknya melihat bahwa konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel belum sampai pada level yang benar-benar mengganggu stabilitas ekonomi global sehingga dorongan ke aset safe haven seperti emas belum terlalu kuat," tutur Yusuf.

Investor Beralih ke Obligasi

Menurut Yusuf, saat ini aset safe haven tidak lagi terpusat pada emas. Sebagian investor justru beralih ke dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

"Menariknya, saat ini aset safe haven juga tidak hanya emas. Sebagian investor justru lebih memilih dolar AS dan obligasi pemerintah AS sehingga permintaan terhadap emas menjadi lebih terfragmentasi. Ini berbeda dengan pola klasik di mana emas biasanya menjadi tujuan utama saat risiko global meningkat," jelas Yusuf.

Yusuf menilai arah harga emas sangat ditentukan oleh dinamika suku bunga dan eskalasi geopolitik. Jika inflasi mereda dan suku bunga turun, emas berpotensi menguat kembali.

"Di sisi lain, jika konflik global berkembang lebih luas dan mulai berdampak ke sektor riil, seperti energi atau perdagangan, maka permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai juga bisa meningkat," ungkap Yusuf.

Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!




(hsa/hsa)










Hide Ads