Nilai tukar rupiah terus melemah dan menuju Rp 17 ribu per US$. Merujuk data Bloomberg, rupiah melemah 0,40% ke level Rp 16.955 per US$, sekaligus mencetak level penutupan terlemah sepanjang sejarah terbaru.
Pengamat ekonomi Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana membeberkan dampak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin loyo. Menurutnya, melemahnya rupiah ini memperlihatkan tren depresiasi yang berlanjut sejak awal Januari 2026 akibat penguatan dolar AS.
Baca juga: BI Sebut Inflasi Bali Terjaga dalam Sasaran |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, dipengaruhi tekanan pasar global dan sentimen fiskal domestik yang masih rentan. Menurutnya, pelemahan kurs ini tidak hanya menjadi angka statistik. Tetapi, tentu akan berimplikasi nyata pada kehidupan ekonomi UMKM, sektor informal, dan masyarakat umum di Indonesia, termasuk Bali.
"Di sisi UMKM, pelemahan rupiah berarti banyak pelaku usaha harus menanggung kenaikan biaya produksi. Terutama mereka yang membeli bahan baku dari luar negeri atau menggunakan jasa yang dihargai dalam dolar," ucap guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar itu dalam keterangan tertulis yang diterima detikBali, Selasa (20/1/2026).
Raka menyebut, ketika biaya impor naik, UMKM bisa terpaksa menaikkan harga jual agar tetap beroperasi. Hal itu akan menurunkan daya beli konsumen dan mengurangi volume penjualan.
Menurutnya, banyak UMKM, terutama di sektor makanan, kerajinan, dan jasa lokal bekerja dengan margin tipis. Sehingga tekanan biaya ini dapat menggerus keuntungan atau bahkan membawa risiko penutupan usaha jika tekanan kurs berlangsung lama.
"Sektor informal, seperti pedagang kaki lima, ojek, tukang servis, dan lain-lain juga merasakan dampak melalui harga kebutuhan pokok yang meningkat karena inflasi biaya impor mulai menular ke harga barang konsumsi," sebutnya.
Sementara bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah berarti daya beli menurun. Ketika harga barang impor dan substitusinya naik, terutama energi, bahan makanan dan kebutuhan pokok, rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah merasakan tekanan inflasi yang lebih berat.
Hal ini disebabkan pendapatan mereka tidak meningkat seiring kenaikan harga. Dia memandang penurunan daya beli ini dapat mempersempit konsumsi rumah tangga dan menurunkan kesejahteraan secara umum.
Dalam kondisi ekonomi yang melibatkan sektor informal yang tinggi, sambung dia, ini memperburuk ketidakpastian ekonomi bagi keluarga yang bergantung pada pendapatan harian atau usaha kecil. Namun, ada pula sisi positif yang bisa diidentifikasi meskipun lebih terbatas.
"Pelemahan rupiah membuat produk Indonesia menjadi lebih kompetitif secara biaya di pasar ekspor, membuka peluang bagi UMKM produksi yang mampu menembus pasar internasional untuk mendapatkan harga lebih menarik dalam dolar AS," bebernya.
Raka menilai hal tersebut bisa memperluas pasar bagi beberapa UMKM dengan orientasi ekspor atau pariwisata lokal yang melayani wisatawan asing. Menurutnya, kebijakan pemerintah yang mendorong promosi ekspor seperti program pemasaran overseas untuk kerajinan lokal atau produk makanan khas bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan kelompok UMKM yang tangguh dan berorientasi global.
"Untuk solusi jangka pendek dan menengah, pemerintah perlu melakukan beberapa langkah strategis. Secara makro, Bank Indonesia dapat terus mengintervensi pasar valuta asing untuk menekan volatilitas kurs dan menjaga suplai dolar," kata dia.
Sementara pada tingkat UMKM dan sektor informal, perluasan akses pembiayaan murah, subsidi bahan baku lokal, serta pelatihan manajemen risiko sangat penting untuk membantu pelaku usaha mengelola dampak kurs dan inflasi. Dia menilai pemerintah juga bisa memperluas program perlindungan sosial bagi masyarakat berpendapatan rendah agar daya beli tidak terus tergerus.
"Dengan kombinasi kebijakan moneter yang stabil, reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing barang lokal serta dukungan langsung kepada UMKM dan sektor informal, Indonesia dapat memitigasi dampak negatif pelemahan rupiah minggu ini, sambil membuka peluang pertumbuhan baru bagi pelaku usaha yang siap beradaptasi," urai Raka.
(hsa/hsa)










































