Kabupaten Jembrana resmi ditetapkan sebagai daerah kasus penyakit kulit berbenjol atau Lumpy Skin Disease (LSD). Penetapan ini menyusul temuan sampel positif sehingga pemerintah daerah memberlakukan lockdown di enam desa guna memutus rantai penyebaran virus pada ternak sapi.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, menjelaskan hasil uji laboratorium terhadap sampel yang diambil di Desa Banyubiru dan Desa Baluk, Kecamatan Negara, telah keluar.
"Memang dari dua sampel suspek LSD (hasilnya positif), tapi kami akan tetap melakukan pemantauan untuk sapi yang lain milik peternak," ungkap Sugiarta saat dikonfirmasi detikBali, Rabu (14/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan rapat koordinasi penanganan LSD, Pemprov Bali dan Pemkab Jembrana menyepakati sejumlah langkah darurat, termasuk penetapan tiga zona wilayah.
Pemerintah membagi wilayah Jembrana menjadi zona tertular, yakni desa-desa yang telah ditemukan kasus positif, zona kontrol di sekitar wilayah tertular, serta zona surveilans sebagai wilayah pengawasan lebih luas.
Pemotongan Bersyarat 27 Sapi
Langkah ekstrem diambil untuk menghentikan wabah sejak dari sumbernya. Sebanyak 27 ternak yang tersebar di enam desa tertular akan segera dilakukan pemotongan bersyarat atau dibunuh.
"Pemotongan bersyarat segera dilakukan terhadap ternak yang sudah tertular sebanyak 27 ekor di enam desa tersebut," ujar Sugiarta.
Pemkab Jembrana juga telah mengirim surat ke Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk meminta vaksinasi darurat. Selain itu, pemantauan ketat dilakukan sesuai radius masing-masing zona.
"Selain lockdown di enam desa, seluruh ternak yang akan dilalulintaskan wajib menjalani pengujian LSD dan harus terpasang tanda pengenal (ear tag). Kami juga akan terus melakukan spraying atau penyemprotan kontrol vektor (lalat/nyamuk) di kandang-kandang warga," tandas Sugiarta.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah peternak di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, telah melaporkan gejala aneh pada hewan ternak mereka.
Ni Kadek Suartini, salah satu peternak, mengaku anak sapinya mati mendadak pada 4 Januari lalu setelah muncul bentol kemerahan dan pembengkakan di bagian kaki.
"Sempat disuntik oleh dokter hewan, tetapi tetap mati. Saat suami saya selesai mencari rumput, sapi ditemukan sudah mati. Yang mati anak sapi, ciri-cirinya ada bentol kemerahan," tutur Suartini kepada detikBali, Minggu (11/1/2026).
(dpw/dpw)










































