Kedelai Mahal, Perajin Tahu-Tempe di Karangasem 'Ngerem' Produksi

Kedelai Mahal, Perajin Tahu-Tempe di Karangasem 'Ngerem' Produksi

Selamat Juniasa - detikBali
Senin, 26 Sep 2022 23:15 WIB
Nurhalimah salah satu perajin tahu dan tempe di karangasem memilih mengurangi produksi akibat dampak mahalnya harga kedelai.
Nurhalimah salah satu perajin tahu dan tempe di karangasem memilih mengurangi produksi akibat dampak mahalnya harga kedelai. (Foto: Selamat Juniasa)
Karangasem -

Dampak kenaikan harga kedelai membuat sejumlah perajin tahu dan tempe di Kabupaten Karangasem, Bali terpaksa 'mengerem' alias mengurangi produksi dan ukuran.

Para perajin memilih menurunkan produksi karena mereka khawatir, kenaikan harga kedelai akibat imbas dari kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) juga berdampak pada jumlah permintaan.

Nurhalimah (35) salah satu perajin tahu asal Lingkungan Bangras, Kelurahan, Kecamatan dan Kabupaten Karangasem mengaku, semenjak harga BBM naik, harga kedelai mengalami kenaikan secara bertahap.

Bahkan saat ini, harganya mencapai Rp 12.800 per kilogram. Padahal sebelum adanya kenaikan BBM harganya kisaran Rp 11.000- Rp12.000 per kilogram.


"Karena harga kedelai mahal, terpaksa saya mengurangi jumlah produksi dari sebelumnya 100 kilo per hari kini hanya 75 kilo saja per hari karena jumlah pembelinya berkurang saat ini," kata Nurhalimah saat ditemui di Lingkungan Bangras, Senin (26/9/2022).

Selain itu, Nurhalimah juga mengaku tidak berani untuk menaikan harga maupun mengurangi ukuran tahu yang diproduksinya karena takut tidak dapat pelanggan lagi dan merugi.

"Kami biasa menjual tahu per ember ke pelanggan. Satu ember berisi sebanyak 300 potong tahu dengan ukuran kurang lebih 3 cm dengan harga Rp 70 ribu per ember," kata Nurhalimah.

Sehingga dengan mahalnya harga kedelai dan menurunnya jumlah pembeli, pihaknya hanya mampu menjual sekitar 15-18 ember per hari .

"Jauh menurun dari sebelumnya, dulu sehari bisa 30 ember terjual. Kalaupun kami ingin naikkan harga, kami khawatir tidak laku,"imbuh Nurhalimah

Untuk itu, dengan kondisi saat ini, Nurhalimah berharap kepada pemerintah agar bisa menurunkan harga kedelai. Karena para perajin tidak bisa mengikuti untuk menaikan harga saat kedelai mahal.

Terpisah, perajin lain bernama Lailati Aminah (42) juga mengaku senasib.

"Sebenarnya saya mau menaikan harga, tapi mau tanya pelanggan dulu mau nggak harganya dinaikan, kalau nggak ya terpaksa kita kurangi produksi karena saya takut rugi kalau nggak laku semuanya," kata Aminah sembari berharap kepada pemerintah untuk segera memberikan solusi dengan naiknya harga kedelai.



Simak Video "Zulhas Sebut Bulog Mau Impor 350 Ribu Ton untuk Tekan Harga Kedelai"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/hsa)