Dolar AS Capai Rp 14.900, Ekonom Ungkap Harga Barang yang Potensi Naik

Tim detikFinance - detikBali
Selasa, 21 Jun 2022 13:28 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih berada di level Rp 14.100. Dolar AS sempat tersungkur dari level Rp 14.500an hingga ke Rp 14.119 pada Sabtu pekan lalu.
Foto: Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tembus di level Rp 14.900. (Agung Pambudhy)
Jakarta -

Mata uang Rupiah sedang tertekan oleh Dolar Amerika Serikat (AS) hingga sempat menyentuh level Rp 14.900. Dengan nilai itu, ekonom memprediksi sejumlah harga barang di tanah air bakal mengalami kenaikan.

Melemahnya nilai tukar Rupiah dinilai dapat memberikan dampak instan di tengah masyarakat, seperti meningkatnya inflasi.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira bilang menguatnya nilai tukar negeri Paman Sam dapat mempengaruhi ekonomi masyarakat Indonesia secara langsung. Dampaknya, kemungkinan akan terjadi inflasi hingga daya beli masyarakat menjadi turun.


Lanjut Bhima, penguatan dolar AS terhadap rupiah berpotensi menyebabkan kenaikan biaya produksi pada industri manufaktur, terutama yang menggunakan barang impor. Hasilnya, harga produk di tengah masyarakat akan tinggi.

"Pelemahan ini berdampak ke beberapa hal, pertama ada kenaikan biaya produksi industri manufaktur. Kenaikan biaya produksi ini, utamanya di manufaktur bergantung ke bahan baku impor akan diteruskan kepada konsumen akhir maka akan menciptakan tekanan inflasi lebih tinggi di dalam negeri," papar Bhima kepada detikcom, Senin (20/6/2022).

Berikut barang-barang yang harganya berpotensi naik di tengah penguatan Dolar AS?

1. Harga Pangan dan Energi

Kenaikan harga akan terjadi pada sejumlah kebutuhan pokok seperti energi dan pangan. Ditambah lagi, Indonesia masih banyak melakukan impor pada komoditas energi dan pangan.

"Tentunya kenaikan harga kebutuhan pokok akan terjadi akibat nilai tukar melemah dan membuat masyarakat keluarkan lebih banyak uang untuk beli kebutuhan sehari-hari," papar Bhima.

Menurut Bhima yang paling terpukul dengan kondisi ini adalah kelompok masyarakat miskin di dalam 40% kelompok pengeluaran paling bawah.

"Paling terpukul ini 40% kelompok pengeluaran paling bawah. Karena semakin rendah pengeluaran maka semakin rentan terhadap fluktuasi nilai tukar yang berimbas ke harga barang di pasar," ungkap Bhima.

2. Obat-obatan hingga Pakaian

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal membenarkan menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dapat mengerek angka inflasi di tengah masyarakat

Harga barang-barang impor lainnya macam obat-obatan, pakaian, hingga barang elektronik juga berpotensi naik harganya. Hal itu terjadi karena barang-barang tersebut banyak diimpor dan membutuhkan mata uang dolar untuk transaksinya.

"Dampaknya memang akan semakin mengkatrol harga barang-barang yang kita impor. Baik barang jadi seperti bahan pangan, obat-obatan, pakaian, kendaraan, elektronika, dan lainnya. Maupun bahan baku bagi industri dalam negeri," ungkap Faisal.

"Jadi pelemahan Rupiah ikut berkontribusi terhadap inflasi disamping kenaikan harga komoditas sendiri di pasar global," imbuhnya.

3. Laptop Sampai Handphone

Selanjutnya, barang yang naik harganya adalah barang elektronik seperti laptop dan handphone. Semua barang itu naik itu karena masih banyak diimpor. Dengan menguatnya kurs Dolar AS, biaya impor barang-barang akan semakin besar.

"Betul, itu termasuk (laptop dan handphone) karena dia barang impor," ungkap Faisal kepada detikcom.



Simak Video "Duh! Rupiah Makin Keok, Dolar AS Nyaris Rp 15.000"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)