Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar mengusulkan Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Japa atau Kapten Japa sebagai Pahlawan Nasional. Kapten Japa gugur dalam peristiwa Serangan Umum Kota Denpasar pada 11 April 1946 saat istrinya tengah mengandung delapan bulan.
Kepala Dinas Sosial Kota Denpasar, I Gusti Ayu Laxmy Saraswaty, mengungkapkan proses pengajuan tersebut telah dimulai sejak 2025. Menurutnya, Pemkot Denpasar telah melakukan riset dan mengumpulkan bahan sejarah terkait perjuangan Kapten Japa.
"Proses untuk pengajuan niki sudah kami mulai tahun lalu sebenarnya. Kami melakukan studi, research dulu, sambil kita mengumpulkan bahan-bahan," kata Laxmy saat peluncuran buku Biografi Ida Bagus Putu Japa di Denpasar, Selasa (27/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelusuran juga dilakukan terhadap berbagai peninggalan yang berkaitan dengan Kapten Japa, mulai dari monumen, nama jalan, hingga lapangan. Selain itu, kisah perjuangan dan harapan agar sosok Kapten Japa tetap dikenal oleh generasi penerus juga menjadi bagian dari kajian terkait pengusulan gelar Pahlawan Nasional.
Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, mengatakan Pemkot Denpasar telah membentuk Tim Penelusuran dan Penelaahan Gelar Daerah (TP2GD). Tim itu bertugas menyiapkan berbagai tahapan untuk mengusulkan tokoh yang dinilai berjasa agar mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
"Maka tim TP2GD ini bertugas merumuskan, memformulasikan, merencanakan, serta menyusun setiap tahapan yang diperlukan untuk sampai menjadi dan memperoleh gelar Pahlawan Nasional," ujar Eddy.
Dalam prosesnya, Pemkot Denpasar juga berkoordinasi dengan Kementerian Sosial (Kemensos) terkait pengusulan gelar Pahlawan Nasional tersebut. Terasuk melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperdalam kajian serta memastikan dokumen dan data sejarah.
"Kemudian dari perumusan-perumusan tersebut diharapkan akan lebih memformulasikan hasil dengan lebih teknis, lebih detail, dan meyakini semua dokumen, semua perjalanan ini sangat update, sangat benar, sangat objektif," imbuh Eddy.
Sebagai upaya edukasi dan memperkenalkan tokoh Kapten Japa, Pemkot Denpasar juga meluncurkan buku biografi perjalanan hidup dan perjuangan Kapten Japa. Buku tersebut akan disebarluaskan kepada masyarakat dan sekolah sebagai sarana untuk mengenal lebih jauh sosok serta perjuangan Kapten Japa.
"Kami akan sampaikan melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan untuk ini dijadikan bahan edukasi dan bahan literasi. Bahan edukasi literasi juga mungkin bisa dilakukan tidak saja bentuk hardcopy, tetapi juga melalui file softcopy sehingga lebih banyak bisa disebarluaskan," imbuhnya.
Baca juga: Cinta Bung Karno pada Kesenian Bali |
Sementara itu, anggota DPD RI Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menilai Kapten Japa merupakan tokoh sentral dalam peristiwa Serangan Umum Kota Denpasar. Rai Mantra sendiri merupakan mantan wali kota Denpasar sekaligus keponakan dari Kapten Japa.
Menurut Rai Mantra, keputusan Kapten Japa untuk menyerang tangsi-tangsi Belanda saat itu bukanlah keputusan yang mudah. Terlebih, saat itu istrinya sedang hamil.
"Karena beliau sendiri memiliki istri yang sedang mengandung delapan bulan pada waktu dan juga keputusan untuk menyerang tangsi-tangsi Belanda, jadi kalau kita lihat ini kan sebuah keputusan yang tidak mudah," kata Rai Mantra.
(iws/iws)