Dinas Sosial (Dinsos) Kota Denpasar menggelar program bertajuk Veteran Bercerita di Gedung Merdeka Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), Denpasar, Bali. Kegiatan ini mengupas jejak perjuangan Kapten Ida Bagus Putu Japa sekaligus mendukung proses pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional.
Sebanyak 30 siswa SMP Negeri 1 Denpasar tampak antusias menyimak kisah perjuangan Kapten Japa dalam kegiatan itu. Mereka diajak mengenal perjuangan pejuang kemerdekaan di Bali melalui cerita langsung dari saksi sejarah dan pemaparan penulis biografi Kapten Japa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengambil fokus di Gedung Merdeka sebagai salah satu bentuk implementasi tahapan-tahapan untuk mengusulkan Kapten Japa menuju Pahlawan Nasional ke Kementerian Sosial Republik Indonesia," kata Ketua Dinsos Kota Denpasar, I Gusti Ayu Laxmy Saraswaty, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber utama, yakni I Gusti Bagus Saputra dan Bernard Keytimu. Saputra merupakan saksi hidup perjuangan Kapten Japa yang pernah bertugas sebagai mata-mata saat pendaratan pasukan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) di Pantai Sanur pada 2 Maret 1946.
Sementara itu, Bernard Keytimu merupakan penulis, jurnalis, sekaligus peneliti dan pemerhati sejarah yang menulis buku biografi Ida Bagus Putu Japa. Program Veteran Bercerita telah berjalan selama dua tahun dan menjadi agenda rutin yang menyasar pelajar.
Laxmy menuturkan Dinsos Denpasar juga mengadakan lomba video mengenai jejak perjuangan veteran dan para pejuang. Menurutnya, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan seminar untuk mengenalkan jejak perjuangan Kapten Japa.
"Tanggal 27 Oktober kami akan melakukan seminar lebih besar dengan narasumber untuk berbicara bagaimana Kapten Japa ini akan diusulkan menjadi pahlawan nasional pada 2027," imbuhnya.
Kesaksian Sang Veteran Perang
Dalam acara tersebut, I Gusti Bagus Saputra mengawali ceritanya dengan mengenang masa-masa sekolah. Menurut Saputra, Kapten Japa lahir pada 1925, terpaut lima tahun lebih tua darinya.
Saat Kapten Japa sudah mengabdi di Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Saputra baru memulai langkah awal dalam perjuangan. Usia yang masih sangat muda membuatnya menjadi prajurit tingkat bawah.
"Saya masih sangat muda, SMP, 16 tahun ikut dalam perjuangan," tutur Saputra di hadapan para siswa.
Saputra juga mengenang pedihnya masa pendudukan Jepang di Bali. Kala itu, dia berujar, warga dipaksa melakukan kerja paksa untuk membangun jalan, jembatan, hingga pangkalan udara. Anak-anak sekolah pun tak luput dari pengerahan tersebut.
"Saya juga ikut kerja paksa membuat jembatan," kenang Saputra.
Ia lantas menceritakan masa mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda. Menurut Saputra, Kapten Japa merupakan sosok pemberani yang mendorong para pejuang untuk menyerang langsung pusat Kota Denpasar, ketimbang hanya menyasar pos-pos kecil Belanda di pedesaan.
Dalam aksi heroik itu, Kapten Japa memimpin sekitar 800 pasukan dari arah timur. Mereka bergerak senyap menuju Denpasar sebelum melancarkan serangan kilat pada dini hari, 11 April 1946. Tangsi militer Belanda di Kayumas menjadi salah satu sasaran utamanya.
Sisi Personal Kapten Japa
Seusai mendengar kesaksian Saputra, para siswa juga menyimak pemaparan Bernard Keytimu. Menurut Bernard, Kapten Japa gugur saat usia 21 tahun. Sebagai pemeluk Hindu, jasad Kapten Japa diupacarai melalui prosesi Ngaben.
Bernard kemudian menguraikan sisi personal Kapten Japa. Ketika Kapten Japa gugur pada 11 April 1946, dia berujar, sang istri sedang mengandung buah hati pertama mereka yang berusia delapan bulan. Anak tersebut baru lahir pada 12 Mei 1946, sebulan setelah kepergian ayahnya.
Selain itu, Bernard juga menyoroti nilai keteladanan yang dapat dipelajari dari sosok Kapten Japa. Terlahir dari keluarga Brahmana dengan marga Ida Bagus yang lekat dengan tradisi keagamaan dan ajaran Weda, Kapten Japa memilih jalan ksatria dengan melangkah ke medan perang membela tanah air.
Baca juga: Cinta Bung Karno pada Kesenian Bali |
"Tetapi beliau mengambil jalan ksatria untuk turun ke medan perang," ujar Bernard.
Bagi Bernard, rekam jejak seperti ini sangat penting untuk terus digaungkan. Ia menilai pengetahuan generasi muda tentang sosok pahlawan lokal masih perlu ditingkatkan.
"Harapan saya, penulisan sejarah-sejarah lokal semacam ini harus diperluas, bahkan dimasukkan ke kurikulum pendidikan lokal," imbuh Bernard.
(iws/iws)