detikBali

Lutfi Sentil Malaysia soal Karhutla: Bercerminlah Dahulu, Selidiki Perusahaan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Lutfi Sentil Malaysia soal Karhutla: Bercerminlah Dahulu, Selidiki Perusahaan


Heri Purnomo - detikBali

Mendag Lutfi dikabarkan terkena reshuffle kabinet Jokowi. Sebelumnya, Muhammad Lutfi menjabat sebagai Menteri Perdagangan kabinet Indonesia Maju sejak 2020.
Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi. Foto: dok. Kemendag
Denpasar -

Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi merespons pernyataan politikus Malaysia yang menyerukan agar Indonesia dikucilkan dari ASEAN terkait kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lutfi menilai persoalan kabut asap tidak semestinya menjadi alasan untuk mengucilkan Indonesia.

Dilansir detikFinance, ia buka-bukaan adanya kepentingan bisnis di balik industri sawit yang menurutnya turut melibatkan perusahaan-perusahaan Malaysia yang beroperasi di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lufti menjelaskan bahwa selama puluhan tahun CPO mentah dari Indonesia dikirim ke Malaysia dan Eropa untuk diolah menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi. Dia menilai keuntungan besar justru diperoleh dari proses pengolahan di sektor hilir.

Kini Indonesia lebih mendorong hilirisasi sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng dalam negeri dan memasok program biodiesel B30, B40, hingga B50.

ADVERTISEMENT

"Begitu kami berhenti memasok CPO mentah murah ke kilang-kilang pengolahan di luar negeri, mereka panik. Mereka menuduh Indonesia melakukan dumping. Mengapa? Karena kilang-kilang mereka di Eropa kehilangan pasokan murah," ujar Lutfi dikutip dari Instagram pribadinya, Rabu (21/10/2026).

"Lihat siapa yang mengajukan keluhan di Eropa. Itu adalah kelompok perusahaan yang sama, yang mengambil minyak sawit mentah dari tanah Indonesia untuk memasok kilang-kilang mereka di Eropa," sambungnya.

Lutfi juga menyinggung gugatan Malaysia bersama Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait kebijakan biodiesel Uni Eropa. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan adanya ketergantungan rantai pasok minyak sawit Malaysia terhadap perkebunan yang berada di Indonesia.

"Dan sebelum Anda berceramah kepada kami soal sanksi, bercerminlah terlebih dahulu. Ketika Amerika Serikat melarang minyak sawit masuk ke negaranya karena persoalan perbudakan modern dan pekerja anak, perusahaan besar andalan Malaysia sendiri yang terseret, yaitu Sime Darby dan FGV. Apakah Indonesia pernah menyebut seluruh negara Malaysia sebagai negara yang harus dikucilkan karena hal itu? Tidak pernah," katanya.

Selain itu, Lutfi menyoroti politikus Malaysia yang mengutip laporan Greenpeace. Ia menyebut laporan tersebut turut menyinggung perusahaan-perusahaan asal Malaysia. Sebanyak 19 titik panas kebakaran itu berada di konsesi KL Kepong di Indonesia serta area bekas kebakaran yang dikaitkan dengan konsesi Genting dan TSH.

"Jika Anda ingin meminta pertanggungjawaban, selidiki perusahaan-perusahaan tersebut dan rantai pasok mereka. Jangan jadikan seluruh negara saya sebagai sasaran," tegasnya.

Baca selengkapnya di detikFinance



(nor/nor)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads