detikBali

Dikira Sakral dan Mistis, Patung Anak Kecil di Ketewel Cuma Hiasan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Dikira Sakral dan Mistis, Patung Anak Kecil di Ketewel Cuma Hiasan


Aryo Mahendro - detikBali

Patung anak kecil berbaju adat Bali di Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, Desa Ketewel, Gianyar, Senin (19/10/2026).
Patung anak kecil berbaju adat Bali di Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, Desa Ketewel, Gianyar, Senin (19/10/2026). (Foto: Aryo Mahendro/detikBali)
Gianyar -

Patung anak kecil tanpa tangan yang berdiri di taman tengah Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, Desa Ketewel, Gianyar, sempat dianggap sakral dan dikaitkan dengan hal mistis. Padahal, patung yang sudah ada sejak awal 2000-an itu hanyalah hiasan karya seorang guru SMK.

"Sempat dikira patung sakral. Padahal hanya hiasan saja," kata Bendesa Adat Lembeng Ketewel Ketut Sukandi saat ditemui detikBali di rumahnya, Gianyar, Senin (19/10/2026).

Sukandi mengatakan patung tersebut merupakan karya Subrata, guru SMK 2 Sukawati. Patung anak kecil tanpa nama itu dipahat sekitar awal 2000-an, saat Jalan Bypass Ida Bagus Mantra belum memiliki lajur lambat di sisi kiri badan jalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya, patung itu dipasang dalam kondisi telanjang. Karena dianggap tidak pantas oleh warga sekitar, patung tersebut kemudian dipakaikan baju adat Bali berwarna putih yang biasa dikenakan umat Hindu saat sembahyang ke pura.

ADVERTISEMENT

"Karena patungnya telanjang. Makanya dikasih baju," kata Sukandi.

Seiring waktu, patung itu kerap terlihat mengenakan pakaian adat Bali setiap hari raya Hindu, terutama saat Galungan. Kebiasaan tersebut membuat sebagian warga mengaitkan keberadaan patung dengan hal-hal di luar nalar.

Patung anak kecil berbaju adat Bali di Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, Desa Ketewel, Gianyar, Senin (19/10/2026).Patung anak kecil berbaju adat Bali di Jalan Bypass Ida Bagus Mantra, Desa Ketewel, Gianyar, Senin (19/10/2026). Foto: Aryo Mahendro/detikBali

Sukandi mengatakan pakaian adat Bali pada patung itu dipakaikan oleh seorang warga bernama Ketut Cakra. Pakaian tersebut tidak hanya diganti setiap Galungan, tetapi juga ketika sudah rusak atau kotor.

"Ada saja orang ngasih atau membelikan pakaian yang baru kalau sudah robek atau kotor," katanya.

Meski telah puluhan tahun berada di lokasi tersebut, cerita di balik patung itu belum diketahui semua warga Desa Ketewel. Sebagian warga bahkan belum mengetahui asal-usul patung maupun siapa yang memakaikan baju adat Bali pada patung tersebut.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads