Kebiasaan Makan Malam Bisa Picu Penyakit Liver? Begini Hasil Studi Terbaru

Suci Risanti Rahmadania - detikBali
Minggu, 18 Okt 2026 23:30 WIB
Ilustrasi makan larut malam. (Foto: iStock)
Denpasar -

Apakah Anda memiliki kebiasaan makan camilan seperti biskuit dan keripik saat malam hari? Kebiasaan makan saat larut malam sebelum tidur mungkin perlu dipertimbangkan kembali karena kurang baik untuk kesehatan.

Dilansir dari detikHealth, sebuah studi terbaru mengaitkan kebiasaan makan di luar jam makan malam dengan peningkatan risiko dua penyakit hati (liver), yakni sirosis dan metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD). Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology ini menganalisis data dari 199.155 orang dengan usia median 59 tahun.

Para peserta terdaftar dalam penelitian kesehatan yang sedang berlangsung dan mengisi kuesioner mengenai pola makan serta gaya hidup setiap 2-4 tahun. Peneliti dari Oregon Health and Science University (OHSU) dan Massachusetts General Hospital menemukan orang yang terbiasa makan larut malam memiliki risiko sirosis 28 persen lebih tinggi dan risiko MASLD 36 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki waktu makan lebih teratur.

Menurut penelitian ini, makan larut malam didefinisikan sebagai kebiasaan makan setelah waktu tidur atau di antara waktu makan malam dan tidur. Meski demikian, sirosis tetap tergolong jarang terjadi. Selama periode pemantauan, tercatat 315 kasus sirosis dari hampir 200.000 peserta.

Para peneliti menduga ritme sirkadian, yakni siklus alami tubuh yang menyesuaikan berbagai fungsi biologis dengan pergantian siang dan malam, dapat menjelaskan hubungan tersebut.

"Sejumlah penelitian telah mengisyaratkan kemungkinan ini, tetapi penelitian ini termasuk salah satu analisis jangka panjang pertama yang secara khusus mengaitkan pola tersebut dengan penyakit hati berlemak," ungkap ahli hepatologi Robert Wilechansky dari OHSU, dikutip dari Science Alert.

"Kita tahu bahwa hati sangat selaras dengan ritme sirkadian tubuh. Karena itu, kami tertarik meneliti perubahan waktu makan yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan tanpa harus mengubah komposisi makanan yang dikonsumsi," imbuhnya.

Median waktu pemantauan dalam penelitian ini mencapai 16 tahun. Peneliti juga memperhitungkan sejumlah faktor seperti usia, indeks massa tubuh (IMT), dan aktivitas fisik.

Setelah faktor-faktor tersebut diperhitungkan, hubungan antara kebiasaan makan larut malam dan peningkatan risiko penyakit hati tetap signifikan secara statistik. Meski penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para peneliti menduga perbedaan cara tubuh memproses makanan pada malam hari mungkin berperan.

Faktor lain juga dapat mempengaruhi hasil, termasuk waktu dan kualitas tidur yang tidak diperhitungkan dalam analisis ini. Tubuh memiliki sejumlah jam biologis yang mengatur berbagai fungsi. Kemudian, hti juga memiliki mekanisme pengaturan waktu sendiri yang terhubung dengan ritme sirkadian utama tubuh.

Ada kemungkinan hati tidak memproses makanan secara efisien ketika seseorang makan hingga larut malam. Kondisi tersebut diduga dapat meningkatkan penumpukan lemak di hati dan kadar gula darah. Namun, dugaan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

"Temuan kami menambah bukti ilmiah yang terus berkembang mengenai hubungan antara pola makan pada malam hari dan dampak buruk terhadap metabolisme serta kesehatan hati," tulis para peneliti dalam publikasi mereka.

"Hubungan ini masuk akal secara biologis. Asupan kalori yang lebih tinggi pada malam hari dapat berkontribusi terhadap obesitas dan gangguan metabolisme melalui penurunan sensitivitas insulin serta penggunaan energi yang lebih rendah pada malam hari," imbuhnya.

Penelitian berikutnya dapat menelusuri lebih jauh jenis makanan yang dikonsumsi saat larut malam. Menurut analisis ini, peneliti mencatat waktu makan camilan, tetapi tidak mencatat jenis camilan yang dikonsumsi.

Penelitian selanjutnya juga dapat mengukur indikator seperti kadar gula darah dan lemak hati secara lebih langsung. Tim OHSU yang melibatkan Wilechansky saat ini tengah merekrut peserta untuk uji klinis yang lebih mendalam.

"Dampak konsumsi makanan pada malam hari terhadap penyakit hati perlu diteliti lebih lanjut pada populasi yang beragam, dengan melibatkan pencitraan hati dan penanda tingkat keparahan penyakit hati," tulis para peneliti.

"Jika hasil ini terkonfirmasi, temuan tersebut berpotensi memengaruhi rekomendasi pola makan bagi pasien dengan penyakit hati kronis."

MASLD, yang juga dikenal sebagai penyakit hati berlemak, merupakan kondisi ketika gangguan metabolisme, seperti obesitas, menyebabkan penumpukan lemak di hati. Pada sebagian orang, kondisi ini dapat memicu pembentukan jaringan parut. Jika berlanjut, kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi sirosis, yakni kerusakan hati permanen yang pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan fungsi hati.

"Kita berulang kali melihat bahwa waktu seseorang melakukan aktivitas, baik tidur, makan, maupun berolahraga, benar-benar berpengaruh," kata Andrew McHill, ahli fisiologi tidur dan ritme sirkadian dari OHSU.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini!



Simak Video "Penjelasan Dokter soal Donor Hati"

(iws/iws)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork