Pulau Bali dan Lombok merupakan dua pulau yang saling berdekatan. Keduanya hanya dipisahkan oleh selat dengan sisi tersempit 20 kilometer (km). Ini menjadikan Bali dan Lombok bagaikan pinang dibelah dua karena memiliki banyak kemiripan, mulai dari budaya, dialek, dan adat istiadat masyarakat.
Namun, jarak sedekat itu ternyata merupakan perbatasan biologis yang paling krusial di muka bumi sehingga menyebabkan keragaman hayati di Pulau Bali dan Lombok berbeda jauh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pulau Bali memiliki fauna yang mirip dengan hewan-hewan di Jawa dan Sumatra, seperti burung jalak. Bahkan, Bali pernah menjadi habitat harimau Bali yang kini telah punah.
Namun, saat beranjak ke Pulau Lombok, jenis fauna yang ditemukan cenderung berbeda. Beberapa fauna di Lombok adalah burung kakatua dan burung pengisap madu yang memiliki kemiripan dengan fauna yang ditemukan di Australia.
Meski Pulau Bali dan Lombok begitu dekat, keduanya memiliki jenis fauna berbeda. Kondisi ini disebut sebagai garis Wallace.
Apa Itu Garis Wallace?
Dikutip dari buku The Malay Archipelago yang ditulis Alfred Russel Wallace, seorang naturalis yang pernah menjelajah bumi Nusantara selama 8 tahun sekaligus penemu garis Wallace, mencatat kepulauan Nusantara terbagi menjadi lima kelompok biografis utama. Bali termasuk ke dalam kelompok Indo-Malay, sedangkan Lombok termasuk ke dalam the Timor Group.
Wallace dalam perjalanannya bingung mengapa perbedaan fauna di Indonesia bagian barat, seperti Sumatra, Jawa, dan Bali mirip dengan fauna Asia, sedangkan bergeser sedikit ke arah timur, meliputi Nusa Tenggara, Sulawesi hingga Papua, mirip dengan Australia. Misteri tersebut terpecahkan oleh sejarah geografi zaman es.
Waktu zaman es terakhir, permukaan laut turun sejauh 20 meter yang menyebabkan laut Sunda berubah menjadi daratan yang menyatukan wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali dengan daratan Asia. Namun, kedalaman Selat Lombok yang lebih dari satu kilometer dari permukaan laut menjadikan Lombok tetap terpisah. Hewan-hewan Asia tidak dapat menyeberang ke Lombok. Oleh karena itu, wilayah timur Indonesia mulai dipengaruhi oleh Australia. Terlebih lagi wilayah Papua dan Australia dahulunya menyatu. Tak heran mamalia berkantung, seperti kuskus, banyak tersebar di sana.
Namun, pergerakan fauna Bali dan Lombok tidak sekaku itu. Saat ini, banyak monyet berekor panjang Bali yang mudah ditemukan di Lombok. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh pergerakan manusia yang membawa hewan Bali ke Lombok.
Karakteristik Fauna Bali Vs Lombok
Fauna Bali memiliki tipe asiatis dengan karakteristik utamanya adalah mamalia berukuran besar, banyak primata atau mamalia darat umum, dan jenis burung yang memiliki ciri khas suara merdu dan warna unik. Di area perairan, tipe asiatis kaya akan jenis ikan air tawar.
Karakter fauna tersebut berbeda dengan Pulau Lombok yang lebih dipengaruhi oleh tipe Australis atau peralihan. Misalnya, burung penghisap madu, kelompok burung kakaktua dan mamalia berukuran kecil.
Contoh Fauna Khas Bali
1. Jalak Bali (Leucopsar rothschildi)
Burung berbulu putih dengan ujung sayap hitam dan kulit biru di sekitar mata ini merupakan fauna endemik Bali. Burung ini termasuk jenis burung pengicau ukuran sedang. Habitat alaminya berada di Bali bagian barat dan satu satunya buruh jenis vertebrata endemik Bali yang masih hidup. Namun, keberadaannya terancam punah sehingga dilindungi oleh pemerintah.
2. Harimau Bali (Panthera tigris balica)
Harimau Bali merupakan subspesies harimau yang dahulu hidup di Bali, tetapi kini telah dinyatakan punah.
Contoh Fauna Khas Lombok
1. Musang Rinjani (Paradoxurus hermaphroditus rinjanicus)
Musang Rinjani dikenal masyarakat Sasak sebagai ujat, subspesies musang luwak yang dikaitkan dengan Pulau Lombok, terutama kawasan Gunung Rinjani. Satwa mamalia ini dapat dijumpai di sekitar kawasan hutan, perkebunan, dan permukiman.
2. Lutung
Lutung merupakan primata pemakan daun dan buah yang hidup berkelompok di kawasan hutan. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB menyebut lutung sebagai salah satu fauna yang ditemukan di Lombok dan tidak ditemukan di Bali maupun Sumbawa. Satwa ini berperan dalam ekosistem hutan, termasuk membantu penyebaran biji.
3. Burung pengisap madu (Honeyeater)
Burung pengisap madu merupakan kelompok burung yang umumnya memakan nektar bunga, meskipun beberapa spesies juga memakan serangga dan buah. Kelompok burung ini banyak ditemukan di Australia dan kawasan sekitarnya. Kehadirannya di wilayah Wallacea berkaitan dengan persebaran fauna di kawasan peralihan antara Asia dan Australia.
(hsa/hsa)