detikBali

2 Anak dan Ibu di Jembrana Digigit Anjing Diduga Rabies

Terpopuler Koleksi Pilihan

2 Anak dan Ibu di Jembrana Digigit Anjing Diduga Rabies


I Putu Adi Budiastrawan - detikBali

Ni Komang Ayu Suarnitisaatditemuidi rumahnya di Lingkungan Anyar Sari, Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara, Jembrana, Kamis (17/9/2026). (Foto: Putu Adi Budiastrawan/detikBali)
Ni Komang Ayu Suarniti saat ditemui di rumahnya di Lingkungan Anyar Sari, Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara, Jembrana, Kamis (17/9/2026). (Foto: Putu Adi Budiastrawan/detikBali)
Jembrana -

Kasus gigitan anjing diduga rabies kembali meneror warga Kabupaten Jembrana, Bali. Kali ini, satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan dua anak kandungnya menjadi korban gigitan anak anjing peliharaan mereka sendiri.

Peristiwa tersebut menimpa Ni Komang Ayu Suarniti (42) beserta dua anaknya, Conradus Febatan Tri Sandi (15) dan Dominika Sanyo Bayu (23). Suarnit lebih dulu diserang saat sedang memandikan anak anjing peliharaannya di Lingkungan Anyar Sari, Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara, Selasa (8/9).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tiba-tiba saya digigit. Memang tidak berdarah, tapi lumayan terasa dan tergores," ungkap Suarniti saat ditemui detikBali di rumahnya, Kamis (17/9/2026).

Ibu lima anak yatim ini menyebut perilaku anjing peliharaannya berubah setelah kejadian tersebut. Menurutnya, anak anjing itu menggigil saat dimandikan dan diduga pernah berkelahi dengan anjing lain.

ADVERTISEMENT

"Anak anjing saya memang belum divaksin, kalau induknya sudah. Seperti ada luka di tubuhnya, mungkin bekas gigitan anjing lain. Kami juga tidak tahu pasti," tutur Suarniti.

Empat hari berselang, giliran anak kedua Suarniti, Sandi (15), yang menjadi korban gigitan anjing tersebut. Sandi mengalami luka gigit yang cukup parah hingga jempol tangan kirinya berdarah dan dia harus dilarikan ke UGD.

Tak berhenti di situ, giliran anak pertama Suarniti, Bayu (23), yang digigit anjing peliharaan tersebut pada Minggu (13/9). Sehari setelah kejadian tersebut, anak anjing itu ditemukan mati.

Khawatir akan ancaman rabies, keluarga langsung melaporkan kejadian ini kepada petugas terkait. Tim medis dan petugas kesehatan hewan kemudian mengambil sampel otak anak anjing tersebut pada Senin (14/9) untuk keperluan uji laboratorium.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, membenarkan adanya laporan kasus gigitan beruntun tersebut. Sugiarta memastikan penanganan kasus ini telah dilakukan sesuai dengan standar penanganan rabies.

"Semua provokasi sesuai kronologis. Secepatnya kami kirim sampelnya (ke laboratorium)," tegas Sugiarta.



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads