detikBali

Momen Turis Prancis Kepincut Cicipi Garam Khas Kusamba Klungkung

Terpopuler Koleksi Pilihan

Momen Turis Prancis Kepincut Cicipi Garam Khas Kusamba Klungkung


Sui Suadnyana, Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Dua turis asal Perancis, Jean Luc, dan pasangannya, Maria, mengunjungi sentra garam tradisional di Desa Kusamba, Klungkung, Bali, Selasa (15/9/2026), (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Foto: Dua turis asal Perancis, Jean Luc, dan pasangannya, Maria, mengunjungi sentra garam tradisional di Desa Kusamba, Klungkung, Bali, Selasa (15/9/2026), (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Wisatawan asal Prancis, Jean Luc, dan pasangannya, Maria, kepincut dengan keunikan garam tradisional khas Desa Kusamba, Klungkung, Bali. Mereka bahkan memborong langsung garam lokal yang diolah dengan teknik warisan leluhur Bali tersebut untuk dibawa ke Prancis.

Pantauan detikBali, Selasa (15/9/2026), Jean dan Maria tiba di kawasan tambak petani garam Kusamba sekitar pukul 11.00 Wita. Mereka langsung mendekati salah satu petani garam setempat, Nengah Kerta (63), untuk berdialog mengenai sejarah dan proses pembuatan garam yang menggunakan palungan dari batang pohon kelapa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepada detikBali, Jean mengaku mengetahui eksistensi garam Kusamba berkat pencarian di internet. Ia dan pasangannya memang sengaja berburu garam tradisional sejak melakukan perjalanan ke Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Jadi kami memang tertarik dengan proses pembuatannya yang khas menggunakan batang pohon kelapa. Apalagi ini sudah dibuat sejak zaman kerajaan. Jadi kami ingin melihat langsung proses pembuatan dan mencobanya," terang Jean.

ADVERTISEMENT

Di balik kekagumannya, Jean sempat mengeluhkan minimnya rambu petunjuk arah menuju lokasi tambak. Meski demikian, ia justru merasa bersyukur tempat tersebut belum dikomersilkan secara masif sebagai destinasi wisata umum. "Karena akan ramai dan tidak asyik rasanya kalau sudah jadi tujuan wisatawan," imbuhnya.

Puas melihat dari dekat proses produksi hingga mencicipi rasanya, pelancong Prancis itu akhirnya pulang dengan membawa 2 kilogram (kg) garam Kusamba. Garam tersebut dibeli langsung dari Nengah Kerta seharga Rp 50 ribu per kg.

Sementara Nengah Kerta menceritakan kunjungan turis asing ke tambaknya bukanlah hal baru. Wisatawan kerap penasaran dengan banderol harga serta metode tradisional pembuatannya. Meski begitu, ia kerap menghadapi kendala bahasa jika turis datang tanpa didampingi pemandu wisata (guide).

"Seperti wisatawan dari Prancis ini kan datang berdua saja. Biasanya kalau ada pemandunya, banyak bertanya dan saya jelaskan. Ada yang terkadang hanya melihat-lihat, tetapi ada juga yang sekalian mencicipi," papar Kerta.

Sebagai informasi, garam tradisional Kusamba yang dicetak menggunakan media palung batang kelapa telah mengantongi Sertifikat Indikasi Geografis (IG) Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) sejak 16 Januari 2022. Keunggulan garam khas Kusamba adalah memiliki cita rasa asin yang khas, bersih, tidak pahit, dan mampu memperkaya kelezatan masakan secara alami.

Selain itu, garam ini juga dikatakan kaya akan kalsium, magnesium, dan kalium yang baik untuk kesehatan tubuh dibanding garam industri biasa. Diproses secara murni menggunakan tenaga surya dan metode tradisional warisan leluhur tanpa tambahan zat pemutih atau bahan pengawet.

Sayang, di tengah pengakuan hukum tersebut, para petani justru dihadapkan pada tantangan lesunya pasar. Hal itu diakui Ketua Kelompok Petani Garam Sarini Segara Kusamba, I Nengah Diana (51).

Diana mengungkapkan sebagian besar petani terpaksa menghentikan sementara produksi garam palungan. "Karena permintaan yang palungan ini hampir sepenuhnya berkurang. Mungkin karena harganya yang tinggi," jelas Diana.

Harga garam palungan di musim panen bisa mencapai Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kg, dua kali lipat lebih mahal dibanding garam media membran yang berkisar di angka Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu per kg.

Selain faktor harga, volume produksi garam palungan juga jauh lebih sedikit. Jika metode membran bisa menghasilkan dua kg, media palungan hanya menghasilkan setengah hingga satu kilogram saja.

Kendati produksi jenis palungan tengah mandek, Diana menyebut hasil panen secara keseluruhan di musim kemarau ini tergolong sangat bagus. Para petani masih bisa memproduksi 35 hingga 40 kg garam per hari dengan harga jual standar Rp 15 ribu per kg.



(hsa/hsa)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads