Suara deburan ombak di Pantai Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, berpadu dengan lantunan doa dari ratusan warga Desa Kampung Kusamba, Desa Kampung Gelgel, dan umat muslim di Kabupaten Klungkung, Rabu (12/8/2026).
Ratusan warga dari dua desa tersebut memadati pesisir pantai untuk menggelar tradisi Saparan yang diisi dengan doa bersama dan makan bersama (megibung).
Pantauan detikBali di lokasi, sejak pukul 16.00 Wita, ratusan warga tampak berdatangan membawa bekal berupa aneka olahan makanan dari rumah masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan doa keselamatan yang dipimpin oleh tokoh agama setempat di tepi pantai, dilanjutkan dengan tradisi megibung di mana warga duduk bersila melingkar di atas tikar menikmati hidangan bersama-sama.
Kepala Desa Kampung Kusamba, Syahrul Ramadan, menjelaskan tradisi Saparan yang digelar setiap akhir bulan Safar dalam kalender Hijriah yang jatuh pada Rabu ini merupakan momen penting bagi masyarakat pesisir Klungkung untuk memohon keselamatan sekaligus mempererat kebersamaan.
"Tradisi Saparan ini rutin kami laksanakan setiap tahun. Inti kegiatannya adalah doa bersama untuk memohon keselamatan, perlindungan dari bencana, serta ungkapan rasa syukur. Setelah doa selesai, kita lanjutkan dengan megibung bersama di tepi laut," ujar Syahrul Ramadan saat ditemui di Pantai Kusamba, Rabu (12/8/2026).
Syahrul menambahkan tradisi doa bersama dan megibung ini juga menjadi pilar penting dalam merawat silaturahmi antarwarga Kampung Kusamba dan Kampung Gelgel, sekaligus memperkokoh keharmonisan dengan masyarakat Hindu di lingkungan sekitar.
"Melalui megibung, tidak ada sekat antarwarga. Semua duduk sejajar di pantai, berbagi makanan yang dibawa. Ini bentuk nyata toleransi dan kerukunan pesisir yang sudah diwariskan oleh para leluhur kami ratusan tahun lalu," tegasnya.
Pemilihan Pantai Kusamba sebagai pusat kegiatan memiliki nilai emosional dan historis tersendiri, mengingat mayoritas warga menggantungkan mata pencaharian sebagai nelayan dan petani garam di kawasan tersebut.
Menuju Pengakuan Resmi WBTB
Di saat yang sama, tradisi saparan kali ini juga diwarnai dengan rangkaian persiapan pengukuhannya menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB) sebagai simbol syukur dan kuatnya akar toleransi pesisir Klungkung. Di mana tradisi saparan sudah masuk dalam daftar usulan WBTB nasional 2026.
"Tradisi ini sudah memasuki sejumlah tahapan yang sudah berproses sejak dua bulan lalu. Kali ini langsung dinilai oleh tim WBTB dalam proses pelaksanannya," terang Syahrul.
Bupati Klungkung I Made Satria yang hadir di acara tersebut dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap tradisi yang terus dilestarikan tersebut.
"Jujur sore ini saya merasa berbahagia menyaksikan umat muslim berkumpul menjadi satu keluarga, bersama-sama menjalankan tradisi Saparan," ujar Satria.
Ia berharap tradisi Saparan tidak menjadi seremoni dan WBTB semata, namun menjadi jati diri dan identitas warga, khususnya umat muslim di Kampung Kusamba dan Kampung Gelgel.
"Mudah-mudahan tradisi ini tetap dapat dilestarikan. Dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh masyarakat terutama ummat muslim, dan generasi mudanya untuk terus mewarisi ini sebagai warisan yang membanggakan kita. Karena ini bukan hanya seremoni belaka, namun menjaga kebersamaan kita," paparnya.
"Megibung itu esensinya kita akan makan bersama, dengan tidak membedakan siapa-siapa. Kita bersama-sama menyantap hidangan bersama," imbuh Satria.