detikBali

TPS3R di Klungkung Kelebihan Sampah Organik, Warga Diminta Rajin Memilah

Terpopuler Koleksi Pilihan

TPS3R di Klungkung Kelebihan Sampah Organik, Warga Diminta Rajin Memilah


Sui Suadnyana, Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Sisa tumpukan sampah organik yang belum dipilah dan bercampur dengan residu di TPS3R Bhuana Asri, Desa Selat, Klungkung, Bali, Minggu (13/9/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Foto: Sisa tumpukan sampah organik yang belum dipilah dan bercampur dengan residu di TPS3R Bhuana Asri, Desa Selat, Klungkung, Bali, Minggu (13/9/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Bhuana Asri di Desa Selat, Klungkung, Bali, mengalami kelebihan sampah organik. Guna mengatasi hal tersebut, pengelola meminta warga setempat agar lebih rajin melakukan pemilahan sampah dari rumah.

"Sampah organik kami memang overload," kata petugas TPS3R Bhuana Asri Desa Selat, Ni Komang Sandat, kepada detikBali, Minggu (13/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

TPS3R Bhuana Asri memiliki kapasitas pengolahan untuk 800 kepala keluarga (KK). Namun, pengelola kini melayani sebanyak sembilan banjar dan tujuh dusun sehingga kelebihan sekitar 400 KK. Walhasil, TPS3R ini selalu kelebihan sampah, terutama organik.

Sampah organik yang diterima TPS3R Bhuana Asri sebagian besar berasal dari sisa upacara adat, seperti canang dan janur. Kelebihan ini akan mengalami lonjakan serius di hari-hari perayaan agama Hindu.

ADVERTISEMENT

Kelebihan sampah organik membuat para petugas harus berpacu dengan tenggat waktu yang ketat setiap hari. Salah satu cara untuk mempercepat pengolahan sampah adalah meningkatkan kesadaran masyarakat agar mereka melakukan pemilahan mandiri di rumah.

"Kalau sudah dipilah, tentu setidaknya akan mempermudah proses pemilahan di sini. Tetapi bukannya makin baik, makin ke sini makin banyak yang tercampur," jelas Sandat.

Selain kesadaran memilah, persoalan lain yang dihadapi adalah kepatuhan membuang sampah sesuai jam operasional penjemputan sampah oleh petugas. Warga kerap membuang tidak sesuai jadwal organik dan anorganik. Warga juga membuang sampah di setelah jam pengangkutan.

"Pembuangan seharusnya dilakukan warga pada pukul 07.00 hingga 08.00 Wita dan paling lama berakhir pada pukul 10.00 Wita. Tetapi, terkadang ada yang buang jam 11 atau siang hari sehingga sorenya kelihatan tidak kita angkut," keluh Sandat.

Ketua TPS3R Bhuana Asri, Gusti Lanang Wirma, mengungkapkan persoalan kelebihan beban ini sudah terjadi sejak lama. Sebagai catatan, fasilitas ini melayani sekitar 800 KK pada 2021. Artinya sudah mengalami kelebihan beban hingga 400 KK dari kapasitas ideal, terutama untuk tampungan sampah organik.

"Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah masih kurang. Ini yang sampai sekarang masih jadi masalah utama," ujar Gusti Lanang.

Beban kerja petugas di lapangan menjadi makin berat akibat kesadaran warga rendah dalam memilah sampah dari sumber. Padahal, operasional harian pengolahan sampah yang melayani sembilan banjar dan tujuh dusun ini hanya ditopang oleh kekuatan 14 orang petugas.

Meski sebagian warga sudah mulai tertib mengikuti jadwal pembuangan yang ditentukan, masih banyak yang mengabaikannya. Gusti Lanang berharap masyarakat bisa meningkatkan kedisiplinan dalam memilah sampah organik dan anorganik demi kelancaran operasional dan mencegah fasilitas lumpuh total.



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads