Gelar sarjana kerap dipandang sebagai modal untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Semakin tinggi jenjang pendidikan, peluang untuk meningkatkan taraf hidup juga dianggap semakin besar.
Namun, kondisi di Indonesia menunjukkan kenyataan yang tidak selalu sejalan dengan anggapan tersebut. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, tetapi tidak semuanya dapat langsung memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan kompetensinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 1 juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih mencari pekerjaan. Situasi itu pun memunculkan pertanyaan: mengapa bertambahnya jumlah orang yang mengenyam pendidikan tinggi belum otomatis membuat peluang kerja semakin terbuka?
Dilansir detikEdu, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) sekaligus Sosiolog Pendidikan, Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi, melihat persoalan ini berkaitan dengan hubungan antara tingkat pendidikan, kompetensi, kualitas pekerjaan, hingga penghasilan.
Menurutnya, secara ideal peningkatan pendidikan seharusnya diikuti dengan meningkatnya kompetensi, kualitas pekerjaan, dan kesejahteraan. Namun, pola tersebut belum sepenuhnya terjadi di Indonesia.
"Lulusan perguruan tinggi masih dapat menemukan pekerjaan yang tidak sejalan dengan pendidikan maupun kompetensi yang mereka miliki," ujarnya dikutip dari laman Unair, Jumat (28/8/2026).
Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan
Salah satu persoalan yang disoroti Prof Bagong adalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja. Perkembangan industri berlangsung semakin cepat.
Teknologi mengubah jenis pekerjaan sekaligus keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Di sisi lain, tidak semua lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan perubahan tersebut.
Akibatnya, seorang sarjana bisa saja memiliki ijazah pendidikan tinggi, tetapi tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya. Bahkan ketika berhasil memperoleh pekerjaan, tidak sedikit lulusan yang akhirnya bekerja di bidang yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan mereka.
"Gelar sarjana tidak lagi dapat menjadi jaminan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidupnya," kata Prof Bagong.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan lulusan.
Arah pembangunan ekonomi juga menentukan seberapa luas kesempatan kerja yang tersedia. Karena itu, ia mendorong perubahan orientasi pembangunan dengan lebih mengembangkan industri padat karya. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi juga bisa menciptakan lebih banyak kesempatan kerja.
Jangan Hanya Kejar Jumlah Sarjana
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kualitas pendidikan tinggi. Menurut Prof Bagong, Indonesia tidak cukup hanya meningkatkan jumlah masyarakat yang berhasil memperoleh gelar sarjana.
Perguruan tinggi juga harus memastikan lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja. Penambahan jumlah sarjana tidak akan banyak berarti apabila lulusan tidak memiliki kemampuan yang relevan.
"Percuma lulusan sarjana banyak apabila kualitas perguruan tingginya tidak bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya.
Karena itu, perguruan tinggi perlu terus menyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan dunia kerja. Kompetensi mahasiswa tidak cukup hanya dibangun melalui penguasaan teori, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan industri dan perubahan pasar kerja.
"Jangan hanya mengejar jumlah sarjana, tetapi pastikan mereka memiliki kualitas dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja," ujar Prof Bagong.