detikBali

Ramai Netizen Sebut Pejabat, Artis, Influencer 'Tone Deaf', Apa Artinya?

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ramai Netizen Sebut Pejabat, Artis, Influencer 'Tone Deaf', Apa Artinya?


Vina Oktiani - detikBali

Stylish woman wearing a red striped sweater and holding a phone, standing against a bright pink background with a curious expression.
Foto: Getty Images/Deagreez
Badung -

Istilah tone deaf belakangan ini kembali ramai digunakan netizen di media sosial (medsos). Kata tersebut muncul dalam berbagai perdebatan, terutama ketika publik menilai seseorang kurang peka melihat situasi yang sedang terjadi.

Perdebatan soal tone deaf belakangan juga muncul ketika sebagian netizen menyoroti artis yang tidak terlihat mengunggah apa pun terkait bencana, seperti gempa atau kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Polemik Pancatera juga sempat jadi sorotan setelah sejumlah host podcast In Her View menghadiri perayaan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka. Kehadiran mereka kemudian dikritik karena dinilai tidak sejalan dengan citra dan nilai yang selama ini dibangun melalui platform tersebut.

Tone deaf secara harfiah merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengenali atau membedakan nada musik. Namun, maknanya berubah ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

Di media sosial, tone deaf lebih sering dipakai untuk menggambarkan sikap seseorang yang dianggap tidak peka terhadap keadaan atau perasaan orang lain. Sederhananya, seseorang disebut tone deaf ketika dianggap tidak bisa membaca situasi.

Misalnya, ketika sedang terjadi musibah dan banyak orang tengah berduka, tetapi seseorang justru membuat unggahan yang dianggap tidak sesuai dengan suasana. Hal tersebut bisa membuat orang lain menilai sikapnya kurang sensitif.

Figur publik dan artis sendiri belakangan juga cukup sering menjadi sasaran penggunaan istilah ini karena kehidupan mereka memang banyak jadi sorotan. Belakangan, perdebatan soal tone deaf juga muncul ketika sebagian netizen menyoroti artis yang tidak terlihat mengunggah apa pun terkait bencana, seperti gempa atau karhutla.

Ketika menyebut seseorang tone deaf, biasanya ada anggapan orang tersebut kurang mempertimbangkan perasaan atau kondisi orang lain. Contohnya, ketika publik sedang ramai membicarakan musibah atau masalah serius, tetapi seseorang justru membuat konten yang dianggap terlalu santai, pamer kemewahan, atau bercanda mengenai hal yang sedang sensitif.

Bagi sebagian orang, tindakan tersebut bisa terlihat seperti tidak memahami suasana. Dari sinilah istilah tone deaf kemudian digunakan sebagai bentuk kritik.

Artikel ini telah tayang di Wolipop. Baca selengkapnya di sini!



(hsa/hsa)









Hide Ads