detikBali

Bocah di Buleleng Tewas Suspek Rabies, Anjing Penyerang Sudah Gigit 6 Orang

Terpopuler Koleksi Pilihan

Bocah di Buleleng Tewas Suspek Rabies, Anjing Penyerang Sudah Gigit 6 Orang


Made Wijaya Kusuma - detikBali

Ilustrasi penyakit anjing gila
Ilustrasi - anjing rabies. (Foto: Edi Wahyono)
Buleleng -

Seorang bocah berinisial GEW (7) tewas dengan status suspek rabies. Terungkap, anjing yang sempat menggigit bocah asal Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali, itu ternyata telah menyerang enam warga.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKPP) Buleleng Gede Melandrat mengungkapkan enam warga yang lebih dulu diserang anjing tersebut telah mendapatkan vaksin antirabies (VAR). Menurutnya, rangkaian gigitan anjing yang sama itu kemudian disikapi dengan menggelar vaksinasi massal di Desa Bubunan pada Juni lalu.

"Anjing ini sudah menggigit enam orang," kata Melandrat, Selasa (11/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Enam korban gigitan anjing tersebut, yakni Kadek S (65), Ketut S (60), Kadek S (42), Komang SM (41), Gede ED (41), dan Made Y (35). Berbeda dengan enam korban sebelumnya, gigitan yang dialami GEW tidak pernah dilaporkan.

ADVERTISEMENT

Melandrat menyebut anjing tersebut merupakan anjing liar. Hewan itu diketahui bersembunyi di sebuah gudang yang menjadi lokasi ayah korban bekerja mencuci mobil. Menurutnya, GEW digigit anjing tersebut saat ikut bersama ayahnya ke gudang tersebut.

"Ayah korban ini bekerja mencuci mobil di gudang. Kebetulan pada saat itu korban ikut ayahnya bekerja. Saat itulah korban mengalami gigitan," ujarnya.

Menurut Melandrat, keluarga tidak melaporkan kejadian yang dialami GEW dengan alasan luka yang ditimbulkan tidak terlalu serius. Meski begitu, anjing yang menggigit bocah dan enam warga lainnya itu langsung dibunuh oleh ayah GEW.

Kondisi tersebut membuat petugas tidak dapat mengambil sampel anjing untuk memastikan status rabies pada hewan tersebut. Melandrat pun menyayangkan keluarga GEW tidak melaporkan kejadian itu kepada petugas.

"Yang disayangkan adalah ada satu orang tidak mendapatkan vaksin, karena tidak dilaporkan. Apakah karena ketidaktahuan sehingga tidak dilaporkan. Padahal pada saat itu juga kan ada vaksinasi yang kami lakukan atas laporan enam orang ini," ungkap Melandrat.

Menurutnya, laporan masyarakat sangat menentukan kecepatan penanganan kasus rabies. Begitu ada laporan gigitan, dia berujar, petugas dapat memberikan penanganan kepada korban sekaligus mempercepat vaksinasi terhadap anjing di sekitar lokasi.

Saat ini, Pemkab Buleleng memperkuat upaya pengendalian rabies dengan menempatkan dua dokter hewan di setiap kecamatan. Mereka melakukan vaksinasi secara langsung dari desa ke desa. Jadwal vaksinasi juga dapat digeser apabila ditemukan peningkatan kasus gigitan di suatu wilayah.

"Ketersediaan obatnya ada, ketersediaan vaksinnya ada, ketersediaan semua sudah tersedia," imbuh Melandrat.

Melandrat meminta warga untuk tidak menunggu kondisi korban memburuk setelah digigit anjing. Luka sekecil apa pun, dia melanjutkan, harus segera dilaporkan agar korban bisa mendapatkan pemeriksaan dan VAR secepatnya.

Sebelumnya, bocah berinisial GEW meninggal dunia dengan gejala yang mengarah pada rabies di RSUD Buleleng. Dua bulan sebelum meninggal, GEW sempat digigit anjing di Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali.



(iws/iws)











Hide Ads