Pendakian via Torean di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) masih ditutup imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pendaki yang masih berada di jalur dan sebelumnya memilih Senaru atau Torean sebagai pintu keluar diarahkan turun melalui jalur Sembalun.
Karhutla yang terjadi sejak enam hari lalu itu telah berdampak pada area seluas 1.098,75 hektare. Sejumlah titik api berhasil dipadamkan, namun kebakaran masih terpantau di lereng utara Puncak Sangkareang.
Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Astekita Ardiaristo, mengatakan penutupan jalur dilakukan untuk memastikan keselamatan pengunjung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagi pendaki yang masih melakukan aktivitas pendakian dan sebelumnya memilih Jalur Senaru atau Torean sebagai pintu keluar, diarahkan untuk mengalihkan perjalanan melalui jalur Sembalun," ujar Astekita, Minggu (27/9/2026) malam.
Tim pemadam gabungan sebelumnya telah berhasil memadamkan api di kawasan Bukit Setampol dan sekitarnya. Namun, titik api masih terlihat di area Puncak Sangkareang jalur pendakian via Senaru.
"Berdasarkan perkembangan terakhir sampai hari ini, api pada sejumlah sektor telah berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran masih terpantau menyala di lereng utara Puncak Sangkareang, sehingga kegiatan pemadaman dan pemantauan tetap dilanjutkan," terang Astekita.
Balai TNGR mencatat luas area yang terdampak karhutla mencapai 1.098,75 hektare. Angka tersebut masih merupakan estimasi sementara dan akan terus diperbarui berdasarkan hasil pemantauan lapangan.
Sebanyak 90 personel dan tenaga pendukung dikerahkan dalam penanganan karhutla. Mereka ditempatkan di sejumlah titik mulai dari Bukit Setampol, Jalur Pendakian Torean, sektor Senaru, Pos 3 Senaru, hingga kawasan yang mengarah ke Puncak Sangkareang dan Pelawangan Senaru.
"Peralatan yang digunakan meliputi alat pemadam manual, drone, perangkat komunikasi, kendaraan roda empat dan roda dua, perlengkapan lapangan serta dukungan logistik yang juga berasal TO," beber Astekita.
Upaya pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Angin yang bertiup sangat kencang menyebabkan pergerakan api cepat meluas. Vegetasi berupa savana pegunungan, semak, rumput dan material organik lainnya juga dalam kondisi sangat kering sehingga mudah terbakar.
Selain itu, lokasi kebakaran berada di medan pegunungan yang jauh, terjal dan sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat mobilisasi personel, peralatan dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar.
"Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam penentuan waktu pergerakan, akses menuju titik api dan metode pemadaman yang dilakukan," ujar Astekita.