Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengungkapkan pemerintah berkomitmen menyediakan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta menekan praktik rentenir di sektor properti. Langkah ini dilakukan melalui perluasan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan dan lonjakan target program bedah rumah atau Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
"Negara harus hadir. Masa negara kalah sama rentenir? Kami kasih program yang murah, yang mudah, yang cepat. Supaya tidak perlu ke rentenir lagi," ujar pria yang akrab disapa Ara itu saat meninjau program bedah rumah di Kelurahan Tonja, Denpasar, Bali, Senin (10/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita kalahin aja. Rentenir kan kelebihannya selama ini, prosesnya cepat-mudah, tapi bunganya mencekik. Kita harus buat program negara seperti KUR Perumahan, mudah murah dan cepat," imbuhnya.
Ara menekankan tidak ada biaya atau pungutan bagi penerima program bedah rumah tersebut. Ia menjelaskan nominal bantuan bedah rumah per unit sebesar Rp 20 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 17,5 juta untuk pembelian bahan bangunan dan Rp 2,5 juta untuk membayar jasa tukang.
Tahun ini, Bali mendapat 4.184 unit bantuan bedah rumah dari Kementerian PKP atau meningkat signifikan dibandingkan bantuan tahun 2025 yang hanya 31 unit. Ribuan rumah tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota di Pulau Dewata.
Adapun sebaran bantuan bedah rumah per kabupaten/kota di Bali, yakni Denpasar sebanyak 259 unit, Tabanan (281), Bangli (301), Badung (281), Gianyar (250). Kemudian Jembrana (312), Buleleng (950), Klungkung (710), dan Karangasem (840).
Dalam kesempatan itu, Ara mengecek langsung kondisi rumah Ni Wayan Pageh (51), salah satu warga yang mendapat bantuan di Kelurahan Tonja, Denpasar. Ia mengaku takjub dengan semangat juang perempuan tiga anak itu.
"Penghasilannya Rp 500 ribu per bulan, anaknya tiga. Pekerjaannya sebagai pemulung. Luar biasa," ujar Ara.
Ara lalu meminta pendamping teknik untuk mempercepat renovasi bedah rumah milik Pageh. Ia juga meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang dihadiri Sekda Dewa Made Indra untuk turut memantau program Presiden Prabowo Subianto itu.
"Presiden Prabowo yang membantu, saya hanya pembantunya. Semangat ibu, ya," ungkap Ara.
Penerima Bedah Rumah Semringah
Sementara itu, Pageh tampak semringah menjadi salah satu penerima program bedah rumah tersebut. Pemulung sekaligus tulang punggung keluarga itu mengaku senang meski hanya mendapat bantuan perbaikan atap rumah. Perbaikan rumah Pageh ditargetkan selesai pada 31 Agustus mendatang.
"Dari dulu saya ingin dapat (bedah rumah), sekarang ada waktunya. Sudah lama, dari anak kecil. Bersyukurlah sekarang tercapai, walaupun hanya atap saja," ujar Pageh.
Sebagai pemulung, penghasilan Pageh tidak menentu. Terkadang ia hanya mendapat penghasilan Rp 500 ribu dalam sebulan. Selama bertahun-tahun, Pageh bersama ketiga anaknya yang menghuni dua kamar tidur itu harus bertahan dengan kondisi atap rumah yang sudah rapuh.
"Setiap kali hujan deras, kami harus siap-siap memasang ember di mana-mana. Kaya-kayu penyangga sudah tidak kuat dan hampir ambruk," imbuh Pageh.
(iws/iws)