detikBali
Badung

Kisah Eks Pengukir Kayu di Bali yang Kini Sukses Budi Daya Lele Sangkuriang

Terpopuler Koleksi Pilihan
Badung

Kisah Eks Pengukir Kayu di Bali yang Kini Sukses Budi Daya Lele Sangkuriang


Sui Suadnyana, Agus Eka - detikBali

I Nyoman Miasa (35), memberi pakan untuk lele yang dibudayakannya di Banjar Panglan Delodan, Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Minggu (9/8/2026). (Agus Eka/detikBali)
Foto: I Nyoman Miasa (35), memberi pakan untuk lele yang dibudayakannya di Banjar Panglan Delodan, Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Minggu (9/8/2026). (Agus Eka/detikBali)
Badung -

Menguras air kolam menjadi salah satu rutinitas I Nyoman Miasa (35) di kawasan Banjar Panglan Delodan, Kelurahan Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali. Miasa menguras setengah air kolam setiap lima hari sekali.

Rutinitas itu dilakoni Miasa sebagai bagian dari upayanya merawat bibit lele sangkuriang. Kesibukan itu Miasa lakoni setelah memutuskan berhenti total dari profesi lamanya sebagai pengukir kayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Miasa kini sukses memutar haluan hidupnya menjadi pembudi daya lele sangkuriang. Usaha pembibitan yang ia rintis sejak 2017 tersebut kini mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.

Varietas lele sangkuriang dipilih Miasa karena postur tubuhnya lebih panjang serta daya tahan yang lebih kuat terhadap serangan penyakit.

ADVERTISEMENT

"Saya tertariknya budi daya lele ini dari keuntungannya ya lumayan. Mulai di pembibitan, saya mulai sejak 2017," kata Miasa saat ditemui di lokasi budidayanya, Minggu (9/8/2026).

Perjalanan Miasa membangun usaha pembibitan lele bermula secara tak sengaja pada 2012. Kala itu, ia hanya coba-coba peruntungan untuk membesarkan lele. Seiring berjalannya waktu, Miasa memilih fokus memproduksi bibit sendiri dengan modal awal belasan juta rupiah.

"Awalnya nyoba dari pertama memeliharanya itu 3.000 ekor untuk pembesaran, akhirnya nyoba di bibit. Modal awal itu Rp17 juta," tutur Miasa.

Miasa membangun empat kolam sederhana yang mampu menampung produksi awal sekitar 70 ribu bibit dengan modal tersebut. Indukan lele kualitas unggul dia dapatkan melalui bantuan rekannya yang mendatangkan langsung dari Jawa Barat.

Proses belajar yang dilakukan secara autodidak tidak serta-merta tanpa hambatan. Pada masa awal coba-coba, Miasa gagal lantaran belum banyak pengalaman.

Kini, dia mengelola 10 kolam aktif dengan daya tampung berkisar antara 40 ribu hingga 50 ribu ekor bibit per kolam atau total keseluruhan sampai 315 ribu bibit. Dari kapasitas itu, Miasa mampu menyuplai kebutuhan pembudi daya pembesaran di berbagai wilayah Bali.

"Pasar mencakup hampir seluruh di Bali, dari Badung, Gianyar, Klungkung, sampai Singaraja dan Tabanan. Setiap bulannya itu mampu kami penuhi di 160 ribu bibit," tutur pria kelahiran 1989 tersebut.

Sistem penjualan bibit lele milik Miasa dihitung berdasarkan ukuran panjang per ekor, mulai dari ukuran 4 sentimeter (cm) hingga 9 cm. Harga yang dipatok menerapkan kelipatan Rp 50 per cm, dimulai dari harga dasar Rp 200 untuk ukuran 4 cm.

Meski terbilang sukses, usaha pembibitan lele milik Miasa tak lepas dari ancaman penyakit musiman, seperti moncong putih dan munting. Serangan penyakit kulit dan kumis keriting tersebut biasanya marak muncul saat cuaca panas ekstrem.

"Biasa moncong putih itu biasanya diawali kumisnya keriting, terus mulutnya kemerah-merahan. Biasanya pas musim cuaca panas sekali," beber Miasa.

Selain faktor penyakit, kendala lain yang dihadapi Miasa adalah perubahan kualitas air kolam saat musim hujan dan cuaca dingin pancaroba. Tingkat keasaman (pH) air yang tidak stabil menuntut perawatan ekstra agar suhu kolam tetap terjaga.

"Pengontrolan airnya enggak boleh terlalu hijau pekat, setiap 5 hari sekali kuras 50% tambah air sumur baru," terang Miasa.

Tantangan pembudi daya kian bertambah seiring dengan melonjaknya harga pakan pelet pabrikan dan cacing sutra di pasaran. Kenaikan harga pakan tersebut per sekitar Rp 10-15 ribu dari harga secara otomatis mendongkrak biaya operasional bulanan.

Untuk konsumsi, bibit usia 0 hingga 20 hari, Miasa mengandalkan pakan alami berupa cacing sutra yang harganya kini naik menjadi Rp10.000 per mangkuk. Total pengeluaran pakan dalam sebulan bisa mencapai puluhan juta rupiah.

"Bulan kemarin saya habis Rp 8,7 juta untuk beli cacing sutra, terus peletnya habis Rp 15 juta. Per hari menghabiskan pakan 15 kilogram," terang Miasa.



(iws/iws)











Hide Ads