Wayan Pariata tengah sibuk memanen pupuk organik dari kotoran cacing di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Gelgel, Klungkung, Bali. Ia adalah salah satu pekerja di sana. Tangannya terlihat terampil memisahkan cacing-cacing dengan kotorannya.
Kotoran cacing yang dipanen Pariata adalah vermikompos atau kascing, pupuk organik yang berkualitas tinggi. Sudah tiga tahun TPS3R Desa Gelgel memproduksi vermikompos dengan bantuan cacing tanah.
TPS3R yang dikelola PT Asta Manah Liang itu kini mendapatkan berkah dari pembuatan vermikompos. Perputaran ekonomi dari kotoran cacing tanah ini bahkan mampu menutup biaya operasional TPS3R secara mandiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Mengolah Daun-daun Gugur Jadi Kompos |
Direktur PT Asta Manah Liang, I Putu Gede Indra, menerangkan inovasi ini merupakan upaya mengatasi sampah organik yang berlimpah di TPS3R Gelgel. Sampah organik jika dibiarkan menimbulkan bau tak sedap, dan menimbulkan risiko jika dibakar.
"Sehingga dalam tiga terakhir ini, kami berupaya mencari solusi agar bagaimana sampah organik ini bisa kembali ke alam sebagai pupuk bernilai tinggi," jelas Indra sembari memperlihatkan cacing tanah yang dibudidayakannya kepada detikBali, Sabtu (11/6/2026).
Sistem vermikompos di TPS3R Gelgel mengandalkan dua jenis cacing unggulan yang rakus melahap sampah organik. Dua jenis cacing itu adalah Lumbricus Rubellus dari Jerman dan African Night Crawler (ANC) dari Afrika. Keduanya sangat efektif dan cepat dalam mengurai sampah organik menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.
Pupuk yang dihasilkan kedua jenis cacing tersebut telah diuji oleh Sucofindo dan Saraswanti Indo Genetech (SIG) belum lama ini. Berdasarkan hasil pengujian, pupuk organik vermikompos merupakan pupuk organik dengan rasio carbon nitrogen (CN) terbaik.
"Berdasarkan Sucofindo dan SIG, ternyata pupuk organik ini yang paling tinggi CN rasionya. Dan ini juga kami terapkan pada tanaman di sekitar TPS3R ini," jelas Indra.
Mengubah sampah menjadi komoditas bernilai tinggi tentu butuh modal awal yang tidak sedikit. Indra membeberkan investasi awal dialokasikan khusus untuk infrastruktur rak pembiakan dan bibit cacing.
Keterbatasan lahan mengharuskan Indra memanfaatkan lahan seadanya dengan membuat rak cacing dengan biaya awal sekitar Rp 200 juta. Modal awal lainnya adalah bibit cacing impor dari Jerman dan Afrika senilai Rp 150 ribu per kilogram (kg).
Dari investasi awal tersebut, TPS3R Desa Gelgel kini mengelola total populasi cacing mencapai 10 ton. Dari kapasitas ini, rata-rata produksi pupuk kascing yang dihasilkan bisa mencapai 3 ton per bulan.
"Pupuk organik ini kami jual seharga Rp 15 ribu per kilo. Selain dari cacing, pemasukan tambahan juga kami dapatkan dari pemilahan sampah plastik. Hasil penjualan gabungan ini nilainya sama, sangat stabil, dan terbukti mampu menutupi (nutup) seluruh biaya operasional," ungkap Indra.
Indra berharap produksi pupuk kascing yang kini menyentuh 3 ton per bulan bisa ditingkatkan. Ia tengah berupaya menggandeng sejumlah pihak untuk dapat memperluas lahan. Indra bahkan memimpikan pabrik vermikompos di Klungkung.
"Mimpi saya ada pabriknya. Semoga tercapai. Bukan hanya usahanya, tetapi dampaknya terhadap pengentasan sampah organik yang begitu banyak di Bali," harap Indra.
Sejahterakan 23 Karyawan
Keberhasilan pabrik pupuk organik ini tidak hanya berdampak baik bagi lingkungan, tetapi juga menghidupkan ekonomi warga lokal. TPS3R Desa Gelgel kini mempekerjakan 23 karyawan yang dibagi ke dalam beberapa pos strategis, mulai dari tim pemilah sampah, operator mesin, tenaga khusus budi daya cacing hingga tenaga budi daya maggot.
Manajemen sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja. Seluruh karyawan digaji sesuai standar yang layak, ditambah jaminan perlindungan sosial yang lengkap.
"Setiap bulan, karyawan kami menerima gaji sesuai UMK sebesar Rp 3,2 juta, dan itu sudah bersih plus fasilitas BPJS Kesehatan serta BPJS Ketenagakerjaan. Kami ingin pekerja sampah juga memiliki masa depan dan jaminan kesehatan yang pasti," tegas Indra.
TPS3R Desa Gelgel menjadi bukti nyata masalah lingkungan bisa tuntas sekaligus mendatangkan cuan yang menyejahterakan masyarakat jika sampah dikelola secara profesional.