Kabupaten Klungkung di bawah kepemimpinan Bupati I Made Satria sukses mengukir sejarah manis di panggung nasional dalam menangani stunting. Sejumlah langkah strategis dilakukan untuk membawa Bumi Serombotan sebagai daerah dengan angka prevalensi stunting terendah nomor satu di Indonesia pada 2025.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Klungkung, angka stunting di kabupaten ini terjun bebas dari 19,40 persen pada 2021 menjadi 3,21 persen per Desember 2025. Keberhasilan menekan angka stunting hingga ke titik impresif tersebut membawa Klungkung memborong berbagai penghargaan bergengsi dari pemerintah pusat.
Rentetan prestasi ini berbuah manis dengan kucuran dana insentif fiskal sebesar Rp 5,6 miliar yang diserahkan langsung oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka kepada Bupati I Made Satria. Tak hanya itu, dalam ajang National Governance Awards (NGA) 2026, Satria juga menyabet penghargaan kategori Top Regency in Healthcare Access & Social Protection. Kementerian Kesehatan bahkan resmi menetapkan Klungkung sebagai lokus pembelajaran nasional bagi daerah lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebijakan Anggaran Satria pada Stunting
Sejak dilantik pada Februari 2025 lalu, Bupati I Made Satria memang langsung tancap gas menjadikan penanganan stunting sebagai program prioritas utama. Pria nomor satu di Klungkung ini menegaskan anggaran stunting tidak boleh dihambat oleh kondisi apapun. Baginya, anggaran untuk penanganan stunting sama pentingnya dengan membeli kebutuhan sandang dan pangan sehari-hari.
"Jadi saya katakan itu pada semua Perbekel. Bagaimanapun, anggaran untuk insentif kader Posyandu sebisa mungkin harus ada. Karena ini sama dengan membeli makan dan minum kita sehari-hari. Kalau tidak dianggarkan, ya kita bisa mati. Artinya kalau stunting dibiarkan, tumbuh kembang generasi penerus tidak diperhatikan, sama artinya dengan kita ingin mengubur diri dari sekarang," ujar Satria saat ditemui detikBali di ruang kerjanya, Senin (22/6/2026).
Pikiran tersebut merujuk pada kesadaran akan pentingnya memastikan keberlangsungan hidup generasi penerus bangsa. Ia menekankan upaya ini meski dapat ditangani sejak dini. Mulai dari bagaiaman memastikan kesehatan reproduksi usia remaja, sampai dengan memastikan kesehatan janin ibu hamil.
"Janinnya harus sehat karena akan melahirkan anak yang menjadi generasi penerus. Kalau tidak, dengan sendirinya kita melahirkan generasi yang tidak bisa kita harapkan ke depannya," tegasnya.
Baginya, penghargaan bukanlah tujuan. Melainkan bonus dari ikhtiar yang dilakukan bersama.
"Fokus utama kita adalah mencetak generasi Klungkung yang cerdas, kuat, dan tangguh untuk melanjutkan pembangunan daerah ke depannya," tegas Satria.
Dalam perjalanannya, kendala anggaran sejak 2025 dan terlebih di 2026 menjadi hambatan dalam memastikan prevalensi stunting menjadi sekecil mungkin. Adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pusat ke daerah membuat flotasi anggaran stunting di tingkat desa sempat terhapus akibat pemotongan anggaran yang mencapai kurang lebih 65 persen. Namun, bagi Satria, roda program pencegahan tidak boleh berhenti.
"Harus tetap jalan. Karena itu saya memerintahkan dinas terkait agar menyisir anggarannya supaya program ini bisa tetap berjalan, jangan sampai berhenti," ungkapnya.
Guna menyiasati tantangan itu, Pemkab Klungkung menambah alokasi anggaran dari dinas terkait. Anggaran itu nantinya akan dialokasikan ke masing-masing desa melalui Bantuan Keuangan Khusus (BKK) ke Kecamatan.
Langkah ini sekaligus mengoptimalkan pondasi baik dari pemerintahan sebelumnya, termasuk menggerakkan seluruh pihak, relawan, juga terutama kader PKK untuk mengedukasi kesiapan fisik perempuan sebelum menikah.
Terakhir ia juga menekankan pentingnya kebijakan anggaran. Lewat penguatan insentif bagi petugas yang selama ini telah tulus mengabdi tanpa pamrih (ngayah) serta pengerahan relawan, Pemkab Klungkung optimistis melangkah menuju target besar: Zero Stunting di tahun 2030.
Menurun Dalam Lima Tahun, Memuncak di 2024-2025
Prevalensi balita stunting di Kabupaten Klungkung menunjukkan tren penurunan signifikan dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Klungkung, angka stunting turun dari 19,40 persen pada 2021 menjadi 3,21 persen per Desember 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klungkung drg IGA Ratna Dwijawati menjelaskan, penurunan paling drastis terjadi setelah 2021. Data SSGI/SKI 2021 mencatat prevalensi stunting 19,40 persen. Lalu turun jadi 7,70 persen di 2022, 4,90 persen di 2023, dan 5,20 persen di 2024.
"Untuk hasil SSGI tahun 2024 prevalensi balita stunting di Kabupaten Klungkung adalah 5,20 persen dan presentase balita stunting berdasarkan aplikasi Sigizi Kega di tahun 2024 adalah sebesar 3,55 persen," ujar Ratna.
Pantauan aplikasi Sigizi Kega sampai Desember 2025 menunjukkan angka terus melandai. Pada Maret 2026 tercatat 3,15 persen. Sementara data penimbangan Januari-Desember 2025 fluktuatif tapi cenderung turun. Puncaknya di Februari 3,50 persen, lalu turun ke 3,08 persen di September, dan menutup tahun di 3,21 persen.
"Presentase stunting berdasarkan input aplikasi sigizi Kega hasil penimbangan bulan Desember 2025 adalah sebanyak 318 orang dari 9.915 balita yang diukur atau sebesar 3,21 persen," jelas Ratna.
Jumlah absolut balita stunting yang diukur Maret 2026 sebanyak 313 balita dari 9.935 balita yang ditimbang. Untuk Desember 2025, jumlahnya 318 balita dari 9.915 balita.
Penurunan ini jadi bukti program intervensi stunting di Klungkung berjalan. Mulai dari pemantauan rutin lewat aplikasi Sigizi Kega, edukasi gizi ke ibu hamil dan balita, sampai peningkatan akses layanan kesehatan dasar.
Meski sudah di bawah target nasional, Dinkes Klungkung tetap fokus menekan angka stunting lebih rendah lagi. Upaya pencegahan sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan terus digencarkan ke semua puskesmas.
Beragam Inovasi dan Peran Serta Multisektor
Ratna menegaskan keberhasilan penanganan stunting di Klungkung merupakan hasil dari peran semua pihak dari hulu ke hilir. Mulai dari kader posyandu sebagai ujung tombak, pemerintah desa/kelurahan, instansi terkait, dan terutama masyarakat.
Menurutnya, peran serta masyarakat untuk datang ke Posyandu menjadi yang utama. Karena dari sanalah keberhasilan pendataan dilakukan. Selama ini, tingkat pendataan mencapai 95 persen lebih.
"Itulah kuncinya. Sehingga data survei kita juga akan valid. Untuk memastikan ini, kuncinya adalah keterlibatan semua pihak tadi," papar Ratna.
Ratna opitmistis dengan terjaganya kerja sama semua pihak menangani stunting, target zero stunting akan terpenuhi. "Zero ini sebenarnya tidak mungkin. Karena pasti akan ada saja satu dua yang mengalaminya. Sehingga kita memasang target sekecil mungkin," pungkasnya.
Adapun sejumlah inovasi yang tercetus dan berjalan baik sebagai berikut:
1. CES-PLONG (Inovasi Puskesmas Klungkung I)
Ini adalah program penanganan langsung (kuratif) di puskesmas untuk anak yang sudah terlanjur stunting atau ibu hamil yang gizinya buruk.
Puskesmas membuat kelas khusus. Di sana, anak-anak stunting diberikan makanan padat gizi, diperiksa dokter spesialis, dan ibunya diajarkan cara memasak yang benar. Ibu hamil juga diberikan latihan fisik (senam) dan suplemen agar bayinya lahir dengan berat normal.
2. Dikecap Cening (Digitalisasi Edukasi Calon Pengantin)
Ini adalah program pencegahan dari hulu (sebelum menikah) menggunakan sistem digital dan pendekatan adat Bali.
Sebelum sepasang kekasih menikah, mereka wajib mendaftar secara online/digital. Tim kesehatan akan mengecek kondisi fisik mereka (seperti kadar hemoglobin/sel darah merah dan lingkar lengan calon pengantin wanita). Jika si wanita kurang gizi atau anemia, mereka akan diberikan pembinaan dan vitamin sebelum menikah, agar saat hamil nanti rahimnya sudah siap dan sehat.
3. Aplikasi Elsimil & Tim Pendamping Keluarga (TPK)
Ini adalah sistem pengawasan dan radar deteksi dini di tingkat desa agar tidak ada ibu hamil atau bayi yang luput dari pantauan.
Kader PKK dan petugas desa mendatangi rumah warga lalu memasukkan data kesehatan ibu dan bayi ke aplikasi Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil). Jika aplikasi mendeteksi ada indikasi risiko stunting (misal: berat badan bayi tidak naik), tim lapangan akan langsung datang memberikan bantuan hari itu juga.
4. Perekrutan Relawan Edukasi
Ini adalah langkah taktis mengatasi kekurangan staf akibat pemotongan anggaran, dengan mencari tenaga bantuan dari masyarakat.
Pemkab mencari warga lokal atau anak muda yang peduli kesehatan untuk dilatih menjadi relawan. Tugas mereka adalah mengetuk pintu rumah ibu-ibu hamil (door-to-door), membagikan vitamin mikro, serta memantau apakah si ibu meminum vitaminnya setiap hari.
5. Intervensi 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan)
Ini adalah program fokus total pada masa emas anak, yaitu sejak 9 bulan di dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.
Karena masa ini adalah penentu anak stunting atau tidak, Dikes Klungkung membagikan Makanan Tambahan (PMT) gratis setiap hari di Posyandu. Makanan yang diberikan memanfaatkan pangan lokal Bali yang tinggi protein (seperti ikan, telur, dan kelor) agar gizi anak terpenuhi dengan optimal.
(hsa/hsa)