detikBali

Tidak Semua Ramuan Bisa Disebut Jamu, Dokter Beri Penjelasan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tidak Semua Ramuan Bisa Disebut Jamu, Dokter Beri Penjelasan


Sarah Oktaviani Alam - detikBali

Ilustrasi Jamu
Foto: Ilustrasi Jamu. (Getty Images/iStockphoto/Eleonora Grigorjeva)
Jakarta -

Jamu telah diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia dan dunia. Sebagai obat bahan alam, jamu kini memiliki payung hukum yang jelas berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Inggrid Tania, menjelaskan terdapat empat golongan obat bahan alam, yakni jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka, dan obat bahan alam lainnya.

"Jamu ini sebagai obat bahan alam yang memiliki riwayat tradisional berdasarkan tradisi. Diturunkan dari nenek moyang bangsa Indonesia hingga generasi sekarang, yang digunakan untuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, upaya rehabilitatif, dan paliatif," kata Inggrid dilansir dari detikHealth.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski memiliki ragam istilah di berbagai daerah, kata "jamu" kini menjadi istilah baku untuk merepresentasikan herbal tradisional Indonesia. Namun, Inggrid menegaskan tidak semua ramuan herbal dapat dikategorikan sebagai jamu.

ADVERTISEMENT

Jamu merupakan ramuan turun-temurun yang telah terbukti secara empiris melalui penggunaan oleh jutaan orang dari generasi ke generasi. Ramuan ini umumnya terdokumentasi, baik secara lisan maupun tulisan, bahkan ada yang diwariskan lewat tembang dan diperkuat melalui riset etnofarmakologi serta etnobotani.

"Ramuan-ramuan itu bisa dikatakan aman karena sudah ada bukti dokumentasi pemakaian dari puluhan atau ratusan tahun lalu sampai sekarang, dengan cara meramu yang sesuai," terang Inggrid.

Menurut Inggrid, ramuan baru dapat dikategorikan sebagai jamu yang aman jika terdokumentasi dengan baik dan diolah menggunakan dosis yang tepat. Sebaliknya, ramuan yang diproduksi secara asal-asalan tidak dapat dikategorikan sebagai jamu yang aman.

"Tetapi kalau yang tidak sesuai, misalnya tidak sesuai dari sisi pemilihan tanamannya, cara produksinya kurang benar, pemakaian alat-alatnya kurang benar, produksi kurang higienis, takaran bahan kurang tepat, itu akhirnya bisa kita bilang belum tentu aman," jelas Inggrid.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak serta-merta percaya segala sesuatu yang alami pasti aman bagi tubuh. "Jadi, bukan berarti segala yang alami itu pasti aman," tegas Inggrid.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini!



(hsa/hsa)









Hide Ads
LIVE