detikBali

Ragam Tradisi Idul Adha di Indonesia yang Sarat Nilai Kebersamaan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Ragam Tradisi Idul Adha di Indonesia yang Sarat Nilai Kebersamaan


Trimina Klara - detikBali

Ilustrasi suasana malam takbiran Idul Adha.
Foto: Ilustrasi Idul Adha. (Gemini AI)
Denpasar -

Idul Adha bukan hanya tentang ibadah qurban, tetapi juga tentang tradisi, kebersamaan, serta nilai budaya yang selalu dilestarikan ke setiap generasi. Setiap daerah di Indonesia mempunyai tradisi masing-masing dalam perayaan "Lebaran Kurban". Keberagaman tradisi ini sudah menjadi kekhasan yang berlangsung lama dan turun-temurun.

Berikut rangkuman tradisi perayaan Idul Adha di berbagai daerah di Indonesia.

1. Ngejot di Bali

Ngejot yang berasal dari bahasa Bali "memberi". Ngejot adalah tradisi berbagi makanan ke tetangga yang bertujuan mempererat hubungan sosial. Tradisi ini menjadi bukti nyata toleransi antar-umat beragama di Bali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

2. Meugang di Aceh

Meugang adalah tradisi menyembelih, memasak, dan menyantap daging sapi/kerbau bersama keluarga, kerabat, dan yatim piatu. Tradisi masyarakat Aceh ini bisa dilakukan tiga kali dalam setahun, seperti sehari sebelum puasa Ramadan, sehari sebelum Idul Fitri, dan sehari sebelum Idul Adha.

Meugang sudah ada sejak masa Kesultanan Iskandar Muda. Tradisi ini menjadi wujud syukur serta mempererat silaturahmi.

ADVERTISEMENT

3. Apitan di Semarang

Apitan adalah ritual sedekah bumi pada Apit/Zulqaidah. Tradisi ini menjadi simbol wujud syukur atas hasil panen dan menjadi doa tolak bala untuk keselamatan desa. Apitan dilakukan dengan cara kirab atau arak-arakan tumpeng gunungan hasil bumi yang kemudian didoakan bersama.

4. Gamelan Sekaten di Surakarta

Gamelan sekaten di Surakarta sebenarnya tidak hanya dibunyikan saat perayaan Idul Adha, tetapi juga menjelang Idul Fitri dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bedanya, saat perayaan Idul Adha, gamelan dimainkan setelah salat id.

Tradisi memainkan gamelan sekaten menjadi wujud rasa syukur dan syiar Islam. Tradisi ini menggabungkan budaya Jawa dan ajaran agama dengan membunyikan dua set gamelan pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di halaman Masjid Agung Surakarta.

5. Grebeg Gunungan di Yogyakarta

Grebeg Gunungan adalah arak-arakan gunungan hasil bumi, seperti sayur, buah hingga jajanan yang disimbolkan sebagai sedekah raja (sultan) setiap 10 Dzulhijah. Arak-arakan hasil bumi ini akan diperebutkan masyarakat setelah didoakan terlebih dahulu oleh Kyai Penghulu Keraton.

6. Manten Sapi di Pasuruan

Tradisi manten sapi dilakukan sehari sebelum Idul Adha oleh masyarakat Pasuruan, Jawa Timur, dengan prosesi memandikan dan menghias sapi kurban layaknya pengantin (manten). Tradisi ini adalah wujud penghormatan pada hewan kurban dan menjaga warisan budaya lokal.

7. Toron dan Nyalasi di Madura

Toron berarti "turun" atau kembali dan Nyalasi adalah istilah untuk ziarah kubur. Keduanya merupakan tradisi yang dilakukan menjelang Idul Adha. Toron juga diartikan sebagai tradisi mudik yang puncak arusnya terjadi satu atau dua hari menjelang Idul Adha yang bertujuan untuk menghormati orang tua, berziarah ke makam leluhur, dan melaksanakan kurban bersama keluarga besar.

8. Mepe Kasur di Banyuwangi

Mepe Kasur adalah tradisi unik masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur, yang selalu dilakukan setiap 1 Dzulhijjah. Masyarakat Suku Osing secara serentak menjemur kasur mereka pada tanggal tersebut.

Tradisi Mepe Kasur sudah ada sejak turun-temurun. Ini merupakan bagian dari bersih desa atau ritual tolak bala untuk membuang penyakit serta menjaga keharmonisan rumah tangga.

9. Accera Kalompoang di Gowa

Accera Kalompoang di Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), adalah tradisi sakral yang dilakukan setiap tahun yang dilakukan di Museum Balla Lompoa. Tradisi ini adalah ritual pembersihan diri dan benda-benda keramat atau pusaka Kerajaan Gowa.

Puncak dari tradisi ini adalah pencucian benda pusaka dengan air suci dan penimbangan Saloka (mahkota emas) dengan berat 1.768 gram berlapis berlian. Jika timbangannya bertambah, dipercaya akan membawa kemakmuran. Namun, jika berkurang, diyakini akan membawa pertanda buruk.

10. Kaul Negeri dan Abdau di Maluku Tengah

Kaul Negeri dan Abdau berasal dari Negeri Tulehu, Maluku Tengah. Tradisi ini adalah arak-arakan tiga ekor kambing oleh pemuka adat dan agama sesudah salat id dari rumah imam, mengelilingi kampung, dan terakhir menuju Masjid Jami Nurul Islam Tulehu. Kambing-kambing tersebut kemudian disembelih. Tradisi ini menjadi bentuk pengabdian kepada Tuhan dan perwujudan kebersamaan masyarakat.

11. Ari Kaut di Raja Ampat

Ari Kaut adalah tradisi di Kampung Lilinta, Distrik Misool Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Ari Kaut merupakan perayaan hasil penggabungan nilai religius dengan penghormatan pada alam laut.

Tradisi Ari Kaut adalah ritual khusus terhadap hewan-hewan kurban sebelum disembelih. Hewan kurban dimandikan oleh tokoh agama, dibungkus kain putih, serta diberi "mahkota" simbol kemuliaan. Prosesi ini didasari oleh semangat gotong royong dan diakhiri dengan acara makan bersama mempererat silaturahmi antar warga pesisir.




(iws/iws)











Hide Ads