Dinas Pertanian (Distan) Kota Denpasar melibatkan 20 dosen dan 150 mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (Unud) untuk mengawasi pemeriksaan hewan kurban menjelang Idul Adha 2026. Mereka diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan hewan kurban di masjid dan musala se-Kota Denpasar mulai 26 Mei hingga puncak Idul Adha pada 27 Mei 2026.
"Jadi satu masjid ada satu mahasiswa dan satu dosen yang mendampingi. Untuk dosen, kami masih susun lagi karena dosennya bertambah lagi. Kami minta tolong panitia di kampus agar seluruh dosen diturunkan," tutur Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Distan Denpasar Ni Made Suparmi ketika diwawancarai detikBali di Kantor Distan Kota Denpasar, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Suparmi, jumlah dosen yang diterjunkan masih akan ditambah. Distan juga menggandeng Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Kota Denpasar serta koordinator wilayah untuk ikut melakukan pemeriksaan hewan kurban.
"Kira-kira ada 25-35 yang dari dokter hewan. Kalau petugas dari dinas, dokter hewannya ada 3-5 orang. Kami ajak untuk ikut memeriksa hewan kurban terutama di postmortem (setelah penyembelihan). Karena di antemortem-nya (sebelum penyembelihan) sudah mahasiswa," imbuh Suparmi.
Sebelum pemeriksaan di masjid dan musala, Distan Denpasar lebih dulu melakukan pendataan dan pemeriksaan lapak penjual hewan kurban sejak Selasa (19/5/2026). Pemeriksaan akan kembali dilanjutkan pada Senin (25/5/2026).
Suparmi memperkirakan bahwa terdapat peningkatan jumlah lapak penjual hewan kurban pada tahun ini yang masih didominasi di sekitar area Kampung Jawa atau sekitar Jalan Ahmad Yani dan Jalan Marlboro atau sekitar Jalan Teuku Umar.
"Kalau tahun lalu ada 19 tempat penjualan. Sepertinya bertambah, karena hari pertama turun itu sudah 12 lapak. Itu baru kami turun di Denpasar Barat dan Denpasar Utara saja. Mulai menyebar ya, tidak terpusat di satu titik. Jadi yang terdekat bisa langsung beli," tutur Suparmi.
Kambing Masih Jadi Primadona
Distan Denpasar mencatat mayoritas hewan kurban yang dijual berupa kambing. Setiap lapak rata-rata menyediakan lebih dari 50 ekor kambing dengan harga mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 5 juta per ekor.
"Rata-rata di atas 50 ekor ya per lapak. Hari Senin kemarin saya turun itu, bahkan ada yang belum datang lagi, tapi ada yang sudah ada yang laku sekitar 8-10, hampir semua pedagang sudah ada yang berbelanja di lapak," jelas Suparmi.
Ia mengatakan kambing menjadi pilihan masyarakat karena harganya relatif lebih terjangkau sehingga lebih banyak dipilih untuk berkurban. Harga kambing sendiri dibanderol mulai dari Rp 2,5 juta-Rp 5 juta.
"Ketua MUI Bali sempat jelaskan kalau satu orang satu ekor kambing, kalau satu ekor sapi bisa patungan dengan tujuh orang," ucap Suparmi.
Sementara, penjualan hewan kurban sapi belum ditemukan karena para pemilik lahan lapak jual hewan kurban melarang penjualan sapi. Hal ini kemungkinan atas pertimbangan berkaitan dengan pengolahan limbah kotoran.
Baca juga: Prabowo Salurkan 28 Sapi Kurban di NTT |
Suparmi juga menambahkan bahwa selain limbah kotoran, ada pula limbah hasil penyembelihan seperti darah. Menurut Suparmi, sejauh ini masjid melakukan pengelolaan mandiri terhadap limbah tersebut.
"Sekarang masih bisa dikelola sendiri. Mungkin ada yang memiliki septic tank atau galian untuk menampung. Mungkin nanti kami turun lagi baru bisa memahami. Terutama setelah permasalahan sampah ini ya," kata Suparmi.
Distan Kota Denpasar juga menyediakan desinfektan bagi para pedagang hewan kurban hingga masjid yang mengolah hewan kurban.
Denpasar Kembali Dapat Bantuan Sapi Presiden
Suparmi menceritakan bahwa tahun ini menjadi tahun kedua Kota Denpasar mendapatkan bantuan sapi dari Presiden Prabowo Subiantp. Setelah tahun-tahun sebelumnya hanya bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali.
"Ini baru dua kali kita dapat bantuan per kabupaten/kota. Dulu kan hanya provinsi. Nanti provinsi yang menyerahkan dari kabupaten/kota mana yang perlu dibantu dengan daging kurban," terang Suparmi.
Tahun lalu diadakan di Betngandang, sedangkan tahun ini dilaksanakan di Pemogan. "Satu ekor saja. Itu pun sudah Rp 60 juta," imbuhnya.
Sapi tersebut berasal dari peternak lokal Denpasar dengan bobot lebih dari 500 kilogram. Menurut Suparmi, sapi bantuan presiden dibeli dengan harga lebih tinggi dari pasaran untuk mendukung peternak lokal.
Imbau Cek Kesehatan Hewan Kurban
Suparmi menegaskan pentingnya untuk memerhatikan standar kesehatan hewan sebelum membeli hewan kurban. Syarat utamanya dipastikan jantan, tidak cacat, dan sehat.
Ia juga mengingatkan daging kurban sebaiknya segera diolah atau disimpan di freezer maksimal empat jam setelah penyembelihan untuk menjaga kualitas dan mencegah pertumbuhan bakteri.
"Jika ingin diolah, segera diolah. Jika tidak ingin diolah, dimasukkan freezer. Karena daging setelah penyembelihan hanya bisa bertahan empat jam setelah penyembelihan. Setelahnya akan merusak mutu daging," ungkapnya.
Dalam pemeriksaan lapak, petugas sempat menemukan beberapa kambing mengalami pilek akibat adaptasi cuaca setelah didatangkan dari daerah asal seperti Buleleng dan Bedugul.
Suparmi mengatakan bahwa para pedagang hewan kurban sangat kooperatif dan responsif dengan operasi rutin Distan Kota Denpasar untuk lakukan pendataan, pemeriksaan hewan kurban hingga edukasi dalam perawatan kesehatan hewan kurban.
(nor/nor)










































