Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) IV Polres Buleleng diresmikan, Sabtu (16/5/2026). Unit di bawah naungan Yayasan Kemala Bhayangkari itu disiapkan untuk melayani 2.985 penerima manfaat di Kecamatan Kubutambahan.
Kapolres Buleleng AKBP Ruzi Gusman mengatakan SPPG IV masih menunggu pencairan anggaran dari Badan Gizi Nasional (BGN) sebelum beroperasi penuh. Meski begitu, pihaknya segera memulai uji coba distribusi makanan bergizi kepada sekitar 1.300 penerima manfaat.
"Data penerima manfaat sekitar 2.985 orang atau hampir 3.000. Karena belum operasional penuh, tahap awal kami lakukan uji coba distribusi untuk sekitar 1.300 penerima manfaat," kata Ruzi seusai peresmian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruzi menjelaskan sasaran program MBG tidak hanya siswa sekolah dari tingkat SD hingga SMA. Program itu juga menyasar kelompok rentan seperti ibu menyusui, lansia, hingga masyarakat yang membutuhkan layanan pemenuhan gizi.
"Penerima manfaatnya bukan hanya anak sekolah, tetapi juga ibu menyusui, lansia, sampai masyarakat yang membutuhkan lainnya. Di Kubutambahan sudah mencakup semuanya," ujarnya.
Menurut Ruzi, program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga dirancang untuk menggerakkan ekonomi lokal. Penyediaan bahan baku makanan melibatkan pasar tradisional, BUMDes, hingga pelaku UMKM setempat.
"UMKM kita libatkan, BUMDes juga ikut. Jadi bukan hanya soal makan bergizi, tapi program ini juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi warga lokal," imbuhnya.
Selain itu, perekrutan tenaga kerja hingga distribusi makanan diprioritaskan bagi masyarakat sekitar. Skema tersebut diharapkan memberi efek berantai terhadap peningkatan kesejahteraan warga di sekitar dapur MBG.
"Semua disinergikan. UMKM jalan, BUMDes jalan, tenaga kerja lokal terserap. Mudah-mudahan manfaatnya tidak hanya dirasakan penerima makanan, tetapi juga masyarakat luas," jelasnya.
Terkait kemungkinan penambahan jumlah SPPG di Buleleng, Ruzi menyebut hal itu masih menyesuaikan kebutuhan penerima manfaat dan ketersediaan anggaran. Saat ini, pihaknya fokus memastikan enam SPPG yang telah dibangun di Buleleng dapat berjalan optimal.
"Kalau memang ada kebutuhan dan pendanaannya tersedia tentu bisa ditambah. Tapi sekarang fokus kami menjaga kualitas enam SPPG yang ada agar benar-benar menjadi percontohan," tegasnya.
Ruzi memastikan aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama dalam operasional SPPG. Polres Buleleng menggandeng ahli gizi serta tim Dokkes untuk memastikan makanan yang didistribusikan aman, higienis, dan sesuai standar kesehatan.
"Kami ingin ini benar-benar berkualitas. Jangan sampai niat membangun SDM lewat program makan bergizi justru menimbulkan masalah karena kelalaian," pungkasnya.
SPPG IV Polres Buleleng diresmikan Wakapolda Bali Brigjen I Made Astawa. Dalam sambutannya, Astawa menyebut pembangunan SPPG merupakan investasi jangka panjang menuju visi Indonesia Emas 2045.
"Kami ingin memastikan anak-anak Indonesia tidak tumbuh dalam kondisi kekurangan gizi sehingga mereka bisa belajar dengan tubuh sehat dan pikiran yang kuat," ujar Astawa.
Menurut Astawa, keberadaan SPPG Polres Buleleng IV menjadi langkah strategis untuk memperkuat pelayanan pemenuhan gizi masyarakat di wilayah Bali Utara.
"Kami berharap SPPG ini menjadi role model pelayanan gizi yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kualitas," tandasnya.
Selain meresmikan SPPG, Polda Bali juga menggelar panen raya jagung kuartal II di Desa Sambangan, Buleleng. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan Polri yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia.
Kabid Humas Polda Bali Kombes Ariasandy mengatakan panen raya jagung dan peresmian SPPG dilakukan bersamaan dengan agenda nasional yang terhubung secara virtual dengan Presiden RI.
"Hari ini ada panen raya jagung kuartal II secara serentak seluruh Indonesia, kemudian peresmian beberapa SPPG yang juga dilaksanakan serentak. Kebetulan untuk Bali dipusatkan di Buleleng," kata Ariasandy.
Menurutnya, program ketahanan pangan akan terus dilanjutkan pada kuartal berikutnya dengan melibatkan seluruh kabupaten/kota di Bali. Komoditas jagung dipilih sebagai salah satu fokus pengembangan karena dinilai potensial menopang kebutuhan pangan daerah.
(hsa/hsa)










































