Mata uang rupiah babak belur ditekan dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, nilai tukar rupiah kini sudah tembus rekor di level Rp 17.500. Besaran nilai tukar ini sudah sangat jauh dari target yang ditetapkan dalam APBN tahun ini.
Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita membeberkan beberapa hal yang perlu dilakukan pemerintah agar rupiah menguat. Pertama, menjaga kredibilitas fiskal dan APBN agar pasar yakin defisit tetap terkendali.
Baca juga: Rupiah Anjlok Nyaris Rp 17.500 per Dolar AS! |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ronny, kepercayaan pasar harus dipulihkan kembali. Hal itu bertujuan agar investor yang tadinya menarik modalnya, kembali menyuntikkan dananya ke Indonesia sehingga dapat menyeimbangkan nilai tukar.
"Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Kadang satu pernyataan pejabat saja bisa membuat rupiah masuk angin lebih cepat dari yang dibayangkan," ujar Ronny, Jumat (15/5/2026), dikutip dari detikFinance.
Selanjutnya, Ronny mendorong pemerintah agar memperkuat ekspor dan memperbesar devisa hasil ekspor suplai Dolar AS di dalam negeri lebih kuat. Kebijakan baru DHE menurutnya harus dioptimalkan untuk menjaga nilai tukar.
Selain itu, dalam jangka waktu panjang pemerintah diharapkan mempercepat hilirisasi dan substitusi impor. Hal itu dilakukan supaya ketergantungan terhadap barang impor bisa ditekan.
Bisakah Rupiah Kembali di Level Rp 16.500?
Secara teori, Ronny berujar, nilai tukar rupiah bisa kembali ke target di APBN 2026 sebesar Rp 16.500. Hanya saja, proses penguatan rupiah saat ini sangat bergantung pada dinamika global beberapa bulan ke depan, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed dan tensi geopolitik dunia.
"Kalau tekanan eksternal mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk ke emerging markets termasuk Indonesia, peluang ke arah sana tetap terbuka. Namun pemerintah dan pasar juga harus realistis bahwa volatilitas global saat ini memang jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu," papar Ronny.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan Bank Indonesia dalam jangka pendek harus tetap aktif menjaga pasar valas supaya pelemahannya tidak terlalu tajam dan tidak memicu kepanikan. Ia menilai untuk menguatkan rupiah atau kembali seperti target di APBN perlu hal yang jauh lebih besar.
Rendy mengatakan perlunya menjaga kepercayaan pasar. Selain itu, dia berujar, anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) harus satu suara dan melakukan kebijakan dengan arah yang sama dan komunikasi yang baik.
"Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar," tegas Rendy.
Dia juga mengatakan struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing. Walhasil, setiap ada gejolak global, rupiah langsung ikut terpukul.
Indonesia, dia melanjutkan, perlahan perlu mengubah struktur ekonominya dengan memperkuat industri dalam negeri untuk memproduksi komoditas sehari-hari dan juga produk ekspor. "Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini membuat impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri," papar Rendy.
Selain itu, Rendy berujar, kepastian kebijakan juga sangat penting untuk dihadirkan pemerintah. Ia meyakini investor bisa menerima aturan yang ketat, asalkan jelas dan konsisten. Menurutnya, hal paling membuat mereka menahan diri biasanya bukan aturannya, tetapi perubahan yang terlalu mendadak dan sulit diprediksi.
Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!
(iws/iws)










































