detikBali

Respons soal Dolar AS Tembus Rp 17.400, Purbaya: Jangan Tanya Saya

Terpopuler Koleksi Pilihan

Respons soal Dolar AS Tembus Rp 17.400, Purbaya: Jangan Tanya Saya


Retno Ayuningrum - detikBali

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa didampingi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, dan Juda Agung serta pimpinan Kemenkeu  memberikan  paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Gedung Kemenkeu Jakarta, Selasa  (5/5/2026).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Ari Saputra/detikfoto)
Denpasar -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons terkait nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tembus level Rp 17.400 pada perdagangan Selasa (5/5). Sejumlah pihak menilai rupiah melemah akibat kondisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang goyah.

Dilansir dari detikFinance, Purbaya mengungkapkan ada pihak-pihak yang mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah dengan kondisi fiskal negara. Namun, ia enggan berkomentar lebih jauh mengenai urusan moneter. Menurutnya, pertanyaan itu seharusnya ditujukan kepada Bank Indonesia (BI).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah, maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah, nantinya BI aja yang jawab. Jangan tanya saya. Mereka yang berhak jawab," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa.

Purbaya justru memamerkan data ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi guncangan global. Menurut dia, ketahanan energi Indonesia saat ini berada di atas negara-negara adidaya dan negara eksportir komoditas besar lainnya.

ADVERTISEMENT

"Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat. Itu nomor dua tuh. Kalau ada krisis global, kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain, bahkan di atas Amerika, di atas Cina, di atas Australia," imbuh Purbaya.

Dari sisi fiskal, dia berujar, defisit APBN masih terjaga. Berdasarkan data, defisit tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya mengeklaim pemerintah berkomitmen menjaga defisit APBN sepanjang tahun di bawah batas 3 persen sesuai desain fiskal. Ia juga mengingatkan agar angka tersebut tidak disederhanakan dengan cara mengalikannya empat kali untuk memproyeksikan setahun penuh.

"Surplus dan defist, mencapai Rp 240,1, itu defisti, itu 0,93 persen dari PDB. Tapi nanti jangan dikali empat, karena setiap tahun akan beda belanjanya dan siklus income-nya beda, siklus belanjanya beda," ujar Purbaya.

"Yang jelas sepanjang tahun akan kita kendalikan di bawah 3 persen sesuai dengan desain APBN," sambungnya.

Dari sisi kinerja, hingga Maret 2026, APBN disebut cukup ekspansif. Pendapatan negara tumbuh sekitar 10 persen sebesar Rp 574,9 triliun secara tahunan, dengan penerimaan perpajakan meningkat 14 persen sebesar Rp 462 triliun, dan penerimaan pajak saja mencapai Rp 394,8 triliun atau tumbuh 20,7 persen.

Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!




(iws/iws)











Hide Ads