detikBali

Hantavirus Merebak, Nusa Penida dan Tabanan Perketat Pengawasan

Terpopuler Koleksi Pilihan

Hantavirus Merebak, Nusa Penida dan Tabanan Perketat Pengawasan


Fatih Kudus Jaelanl, Krisna Pradipta - detikBali

Hantavirus cells
Ilustrasi hantavirus. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Enes Evren)
Klungkung -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Klungkung memperketat screening dan surveilans hantavirus di Nusa Penida menyusul meningkatnya kasus penyakit tersebut di Indonesia. Kawasan wisata itu menjadi perhatian khusus karena tingginya mobilitas wisatawan domestik dan mancanegara, termasuk pekerja kapal pesiar yang hilir mudik dari luar negeri.

Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, I Gusti Ayu Ratna Dwijawati, mengatakan seluruh fasilitas kesehatan diminta lebih aktif melakukan pengawasan dan mendeteksi pasien dengan gejala mencurigakan.

"Sejauh ini aman. Saya juga sudah meminta surveilans kita untuk lebih aktif. Faskes (fasilitas kesehatan) juga untuk screening surveilans-nya kita perketat," ujar Ratna, Senin (11/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain memperketat screening, Dinkes Klungkung juga mulai menggencarkan edukasi ke masyarakat terkait hantavirus.

ADVERTISEMENT

"Booklet-booklet tentang hantavirus juga sudah kita sebarkan," imbuh Ratna.

Ratna menegaskan hingga kini belum ada laporan kasus hantavirus di Klungkung. Namun, petugas medis di puskesmas hingga rumah sakit diminta lebih peka terhadap pasien dengan gejala menyerupai flu.

"Petugas medis di faskes sudah kami instruksikan untuk lebih peka. Kami pastikan kesiapan faskes dalam melakukan screening jika ditemukan pasien dengan gejala hantavirus ini. Sejauh ini belum ada laporan," jelasnya.

Kewaspadaan itu meningkat setelah Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 kasus konfirmasi hantavirus di Indonesia sepanjang 2024-2026. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta dan DIY dengan masing-masing enam kasus, disusul Jawa Barat sebanyak lima kasus.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui urin, kotoran, atau air liur tikus terinfeksi yang menyebar lewat udara (dust aerosol) dan terhirup manusia. Mayoritas kasus di Indonesia didominasi jenis Seoul Virus yang menyerang fungsi ginjal.

Sementara itu, Dinkes Tabanan juga memastikan belum ada laporan kasus hantavirus di wilayahnya. Meski demikian, edukasi terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terus digencarkan untuk mencegah penyebaran virus.

Direktur Utama RSUD Tabanan, I Gede Sudiartha, mengatakan pasien suspek hantavirus nantinya akan ditangani berbeda dengan pola penanganan saat pandemi COVID-19.

"Investigasi langsung tidak seperti pasien COVID-19, karena gejalanya seperti pasien flu biasa. Baru pendeteksian awal saja, mudah-mudahan tidak sampai ada kasus hantavirus di Tabanan," ujar Sudiartha.

Ia menjelaskan pasien yang dicurigai terpapar hantavirus akan ditempatkan sementara di ruang isolasi sebelum menjalani prosedur penanganan lanjutan.

"Perawatannya tetap dipisahkan dan tidak digabung dengan pasien lain," jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Tabanan, IB Surya Wira Andi, mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus di sekitar rumah untuk mencegah penularan.

"Sejauh ini belum ada laporan kasus virus itu di Tabanan. Masih aman dan mudah mudahan tidak ada," tutupnya.




(dpw/dpw)










Hide Ads