Iran memastikan tak akan membuka Selat Hormuz selama pelabuhan-pelabuhannya terus diblokade oleh Amerika Serikat (AS). Hal itu ditegaskan oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Dilansir dari detikNews, Kamis (23/4/2026), Ghalibaf menyebut tindakan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran itu sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata". Blokade dilakukan oleh angkatan laut AS.
"Gencatan senjata lengkap hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut (AS), membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata," kata Ghalibaf di X.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Namun, Trump juga mengatakan kebijakan blokade pelabuhan Iran tetap akan dilanjutkan oleh militer AS.
"Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu," kata Trump sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Rabu (22/4/2026).
Gencatan senjata AS dan Iran pertama kali dilakukan pada 7 April dan akan berakhir hari ini sebelum akhirnya diperpanjang oleh Trump. Trump mengatakan perpanjangan gencatan senjata kali ini tidak memiliki batas waktu.
"Oleh karena itu, akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan dan diskusi diselesaikan dengan satu atau lain cara," jelas Trump.
Trump juga menyinggung pemerintahan Iran saat ini telah terpecah. AS, kata Trump, saat ini masih menunggu pemerintah Iran untuk hadir dalam negosiasi lanjutan di Pakistan.
"Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu," tutur Trump.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!
(hsa/hsa)