Seorang siswi SD berinisial KA nekat meloncat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan, Denpasar, setelah berjoget sambil merayakan ulang tahun. Aksi ekstrem itu memicu sorotan terhadap dugaan pengaruh game horor-psikologis yang dikonsumsinya.
Dalam video yang beredar, terdengar lagu yang diputar siswi tersebut merupakan soundtrack dari salah satu game horor-psikologis. Warganet kemudian mengaitkan kejadian itu dengan game tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah warganet berkomentar bahwa pada akhir permainan, tokoh utamanya melompat dari gedung. Muncul pula spekulasi bahwa siswi tersebut terinspirasi dari game Omori. Sejumlah psikolog pun menyoroti peristiwa ini.
Psikolog Wangsa Ayu Vidya Loka menjelaskan, dari perspektif psikologis, otak anak dan remaja, terutama bagian prefrontal cortex yang berfungsi untuk pengambilan keputusan, kontrol impuls, dan pertimbangan konsekuensi, belum berkembang sepenuhnya.
"Dalam situasi tertentu, anak bisa melakukan tindakan ekstrem bukan karena benar-benar ingin mengakhiri hidup, tetapi karena dorongan sesaat, keinginan mencoba, mencari perhatian, atau mengikuti sesuatu yang dilihat tanpa memahami sepenuhnya makna dan akibatnya," kata Vidya, Rabu (22/4/2026).
Vidya mengingatkan agar keterlibatan game dalam kasus ini dilihat secara hati-hati, meski konten seperti game horor-psikologis berpotensi kuat memengaruhi anak. Menurutnya, anak dan remaja memang mudah terpengaruh oleh hal yang mereka konsumsi, termasuk game, musik, atau konten visual.
"Terutama jika ada kedekatan emosional dengan karakter, konten tersebut memberikan kesan dramatis atau bermakna bagi mereka, anak sedang dalam kondisi psikologis yang rentan," ungkap dokter yang juga penulis itu.
Namun, Vidya menegaskan bahwa pengaruh game Omori tidak serta-merta menyebabkan anak meniru perilaku tersebut. Pengaruhnya biasanya bersifat pemicu atau penguat, bukan penyebab utama.
"Artinya, jika memang ada pengaruh kemungkinan besar itu terjadi karena sudah ada kondisi lain yang membuat anak lebih rentan untuk meniru," sambungnya.
Ia menambahkan, faktor lain juga berpotensi menjadi penyebab, seperti kondisi emosional yang terganggu, mengalami perundungan, konflik dengan teman atau keluarga, kebutuhan pengakuan, paparan konten media sosial, hingga kemungkinan adanya gangguan psikologis.
"Sering kali tindakan tersebut bukan hasil dari satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai tekanan dan pengaruh," sebutnya.
Sementara itu, psikiater anak I Gusti Rai Putra Wiguna mengatakan, dalam ilmu psikiatri, anak dan remaja cenderung mudah meniru apa yang dilihat, terutama jika terjadi berulang.
"Jadi kalau ada paparan berulang narasi bunuh diri dapat menurunkan ambang ketakutan pada tindakan tersebut. Jadi pengaruh itu mungkin ada tapi hampir selalu sebagai faktor pemicu tambahan bukan akar masalahnya," jelas Rai Putra.
(dpw/dpw)