Bali mencatat 2.000 kasus baru HIV/AIDS sepanjang 2025 dan masuk 10 besar nasional. Namun, tingginya angka itu disebut bukan semata-mata berasal dari warga Bali.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali mengungkap, lonjakan kasus dipengaruhi banyaknya pasien dari luar daerah hingga warga negara asing (WNA) yang berobat di Pulau Dewata.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menjelaskan data HIV dihitung berdasarkan pasien yang mengakses layanan pengobatan di suatu wilayah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu karena data HIV itu adalah setiap pasien HIV yang mengakses pengobatan itu dan kenyataannya memang banyak sekali pasien-pasien di luar Provinsi Bali," kata Raka, Selasa (21/4/2026).
Menurut Raka, pasien dari luar daerah kemungkinan memilih Bali untuk menjaga kerahasiaan status kesehatannya. Hal ini turut memengaruhi tingginya angka kasus yang tercatat.
"Jadi 2 ribu kasus itu memang penemuan kasus baru di 2025 gitu. Itu kasus baru ya. Jadi semua yang baru, pasien yang memang mengakses melakukan pemeriksaan di sini," jelasnya.
Selain itu, tidak sedikit warga asing yang menjalani pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS di Bali. Sekitar 31 persen pasien tercatat berasal dari luar Bali maupun luar negeri.
Raka menambahkan, setiap provinsi memiliki target dari pemerintah pusat untuk menekan angka HIV/AIDS. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan mobilitas pasien lintas daerah masih tinggi.
"Jadi memang kita enggak bisa simpulkan bahwa Bali itu kasusnya tinggi karena memang banyak orang luar gitu," tandas Raka.
(dpw/dpw)










































