detikBali

Dilema Dinsos Denpasar Tangani Gepeng, Sudah Dipulangkan Malah Balik Lagi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Dilema Dinsos Denpasar Tangani Gepeng, Sudah Dipulangkan Malah Balik Lagi


Firizqi Irwan - detikBali

Satpol PP Kota Denpasar menertibkan 18 pengemis, gelandangan, pengamen, hingga badut di sejumlah lokasi, pada Kamis (15/1/2026). (Foto: Dok. Satpol PP Denpasar)
Satpol PP Kota Denpasar menertibkan 18 pengemis, gelandangan, pengamen, hingga badut di sejumlah lokasi, pada Kamis (15/1/2026). (Foto: Dok. Satpol PP Denpasar)
Denpasar -

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Denpasar menghadapi dilema ketika menangani gelandangan dan pengemis (gepeng), manusia silver, hingga orang-orang telantar. Belakangan, para gepeng yang berkeliaran di sejumlah titik di Denpasar kebanyakan berasal dari Jawa Barat.

"Belakangan ini yang paling banyak dari daerah Jawa Barat. Rentan usia paling muda ada yang 20 tahun hingga lanjut usia sekitar 60-70 tahun," ujar Kepala Dinsos Denpasar I Gusti Ayu Laxsmy Saraswaty, Senin (19/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada yang baru datang dari Medan ke sini ngekos satu-dua bulan, selanjutnya nggak bisa bayar. Itu satu keluarga," imbuhnya.

Laxsmy menjelaskan Dinsos Denpasar memiliki standar pelayanan minimal dalam menangani gepeng hingga orang telantar. Termasuk dengan memulangkan mereka ke daerah asal masing-masing. Meski begitu, Laxsmy berujar, sejumlah gepeng yang sudah dipulangkan justru datang kembali ke Bali.

ADVERTISEMENT

"Pandangan mereka mungkin kalau telantar pun di sini dikasih makan, lalu dipulangkan. Jadi mereka datang lagi. Tapi, memang tidak langsung ke Denpasar. Mereka bermukim dulu di Tabanan baru ke Denpasar," imbuhnya.

Dinsos Denpasar, dia melanjutkan, kerap menghadapi kendala dalam administrasi kependudukan. Menurutnya, kerap kali gepeng yang diamankan tidak memiliki kartu identitas. Bahkan, tak jarang yang belum pernah melakukan perekaman KTP elektronik.

"Sesuai prinsip kemanusiaan, kalau ada yang sakit kami bawa ke rumah sakit untuk berobat. Namun saat dicek, ternyata tidak ada identitasnya," ujar Laxsmy.

Suatu hari, petugas Dinsos Denpasar pernah menangani gepeng dan manusia silver yang terkena penyakit HIV/AIDS. Saat dipulangkan ke daerah asalnya, mereka justru ditolak oleh keluarga.

Ada pula orang telantar yang ditemukan di kawasan Lumintang, kemudian meninggal dunia di RSUD Wangaya Denpasar. Namun, keluarga justru menolak jenazah tersebut dipulangkan.

"Pasien meninggal di Wangaya. Saat kami hubungi lagi, keluarganya tetap tidak mau menerima jenazahnya," ungkap Laxsmy.

"Akhirnya, kami berkoordinasi dengan yayasan, paguyuban untuk memakamkan jenazah secara Islam. Jenazahnya akhirnya dimakamkan di Kampung Jawa (Dusun Wanasari)," imbuhnya.

Sebelumnya, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar menertibkan 18 pengemis, gelandangan, pengamen, hingga badut di sejumlah lokasi, pada Kamis (15/1/2026). Seusai penertiban, belasan orang yang terjaring dibawa ke kantor Satpol PP Kota Denpasar untuk didata dan diberikan pembinaan.




(iws/iws)











Hide Ads